alexametrics

Lima Negara yang Diprediksi Bebas Uang Tunai di 2020

loading...
Lima Negara yang Diprediksi Bebas Uang Tunai di 2020
Hidup tanpa uang tunai diprediksi bakal menjadi hal yang lumrah di negara-negara ini. Foto/Ist
A+ A-
JAKARTA - Hampir di seluruh belahan dunia, cashless society atau pembayaran nontunai terus berkembang. Bahkan di sejumlah negara maju, kebiasaan bertransaksi dengan uang tunai perlahan-lahan mulai menghilang. Dikutip laman Medium.com, Rabu (13/2/2019) berikut adalah lima negara yang diprediksi bebas uang tunai pada 2020 nanti.

Swedia
Swedia merupakan salah satu negara tanpa uang tunai terbesar di dunia. Pada 2016, hanya sekitar 1% dari nilai seluruh pembayaran di Swedia yang dibayarkan dalam bentuk koin atau uang kertas.

Bahkan beberapa berharap angka tersebut akan turun menjadi 0,5% pada tahun 2020. Toko-toko dan bisnis yang ada di Swedia diizinkan secara hukum untuk menolak pembayaran tunai, dan bahkan 900 dari 1.600 cabang bank di Swedia tidak berurusan dengan uang tunai.



Penerapan cashless di negara ini begitu cepat tumbuh lantaran dibarengi dengan fasilitas digitalnya. Orang Swedia menikmati beberapa infrastruktur Teknologi Informasi terbaik di Eropa dan Stockholm yang juga menjadi tempat lahirnya perusahaan teknologi keuangan iZettle.

Korea Selatan
Pada April 2017 lalu Korea Selatan mulai mengurangi uang koin mereka dengan meluncurkan uji coba di mana pembeli ditawari isi ulang pada kartu T-Money. T-Money adalah kartu prabayar yang sangat populer digunakan di kota-kota di seluruh negeri untuk transportasi umum, toko-toko, dan bahkan taman hiburan.

Kartu pra-bayar ini adalah salah satu alasan Korea Selatan menjadi masyarakat cashless, dengan hanya sekitar 20% dari transaksi dilakukan secara tunai.

China
China mengalami pertumbuhan pembayaran tanpa uang tunai tertinggi selama tima tahun terakhir. Sebagian besar masyarakantnya menggunakan dua sistem paling populer yakni Alipay dan WeChat Pay.

Sistem yang ada menggunakan pemindai kode QR untuk membayar hampir semua hal. Layanan perpesanan yang sudah populer, WeChat, meningkatkan adopsi dengan menanamkan pembaca kode QR ke dalam aplikasinya. Karena aplikais jejaring sosial populer ini memiliki 963 juta pengguna aktif.

Sifat universal pembayaran QR-code di China bahkan memengaruhi negara lain. Pada 2017, jumlah toko Jepang yang menerima AliPay berlipat ganda karena toko beradaptasi dengan meningkatnya permintaan dari wisatawan China.

Somaliland
Bukan hanya negara-negara maju saya yang mengadopsi pembayaran digital, negara seperti Somaliland yang berada di benua Afrika yang tergolong salah satu daerah termiskin di dunia, sebagian besar orang dewasa di negara ini memiliki mobile banking.

Hampir di sebagian besar toko di wilayah ini dengan mudah dapat ditemukan nomor akun Zaad. Zaad menjadi layanan pembayaran seluler dari operator seluler terbesar Somaliland, Telesom.

Dibandingkan dengan rata-rata dunia yang hanya 8,5 kali melakukan transaksi seluler untuk pembayaran, warga Somaliland bahkan melakukan 30 pembayaran dari ponsel mereka setiap bulan.

Inggris
Di Inggris memang tidak setinggi negara lain dalam hal mengadopsi uang digital. Namun, pada 2015 unit kebijakan mantan Perdana Menteri David Cameron diduga mempertimbangkan untuk menjadikan Inggris negara tanpa uang tunai pada tahun 2020 .

Pembayaran cashless terus meningkat. Pada 2016 jumlah pembayaran kartu di Inggris melampaui jumlah uang tunai untuk pertama kalinya. Namun, uang tunai tetap menjadi utilitas penting bagi banyak orang. Menurut Kepala Kasir Bank of England, 2,7 juta orang hampir sepenuhnya bergantung pada transaksi tunai.
(fjo)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak