alexametrics

Pemerintah Fokus Tingkatkan Ekspor Produk Manufaktur

loading...
Pemerintah Fokus Tingkatkan Ekspor Produk Manufaktur
Ekspor produk manufaktur akan terus digenjot untuk mendukung perekonomian nasional. Foto/Ilustrasi
A+ A-
JAKARTA - Pemerintah semakin fokus mendorong peningkatan ekspor industri pengolahan agar makin berkontribusi terhadap pertumbuhan dan perbaikan struktur perekonomian nasional. Beberapa strategi dilakukan pemerintah supaya produk manufaktur dalam negeri memiliki daya saing tinggi di kancah global.

"Kontribusi ekspor produk industri manufaktur pada tahun 2018 menembus hingga 72,25% atau senilai USD130,09 miliar, naik sebesar 3,98% dibanding tahun 2017 yang mencapai US125,10 miliar," kata Menteri Perindustrian (Menperin) Airlangga Hartarto di Jakarta, Rabu (13/2/2019).

Dia menuturkan, Kemenperin telah menyiapkan sejumlah strategi untuk memacu nilai ekspor produk manufaktur nasional, yang di antaranya terdapat di dalam peta jalan Making Indonesia 4.0.



Strategi utama pemerintah adalah dengan berupaya menarik investasi industri untuk menjalankan hilirisasi sehingga dapat mensubstitusi produk impor. Kebijakan lainnya, perbaikan iklim usaha melalui penerapan online single submission (OSS), fasilitas insentif perpajakan, program vokasi, penyederhanaan prosedur untuk mengurangi biaya ekspor, dan pemilihan komoditas unggulan.

"Pada tahun 2019, kami akan genjot lagi sektor industri untuk meningkatkan ekspor, terutama yang punya kapasitas lebih," tuturnya. Pada 2019, pemerintah menargetkan ekspor nonmigas tumbuh 7,5%.

Proyeksi pertumbuhan tersebut mempertimbangkan pertumbuhan ekonomi global sebesar 3,7%. Adapun tiga pasar ekspor utamanya adalah Amerika Serikat, Jepang, dan China. Penetrasi pasar ekspor ke negara-negara nontradisional juga dilakukan, seperti ke Bangladesh, Turki, Selandia Baru, Myanmar dan Kanada.

"Kami fokus memacu kinerja ekspor di lima sektor industri yang mendapat prioritas pengembangan sesuai peta jalan Making Indonesia 4.0," imbuhnya. Lima sektor itu adalah industri makanan dan minuman, tekstil dan pakaian, automotif, elektronika, dan kimia. Lima kelompok manufaktur tersebut mampu memberikan kontribusi sebesar 65% terhadap total nilai ekspor nasional.

Pemerintah juga menargetkan segera merampungkan 12 perjanjian dagang baru pada tahun ini. Dalam kurun waktu paling dekat, Kemenperin sedang menunggu percepatan perjanjian kerja sama ekonomi yang komprehensif atau Comprehensive Economic Partnership Agreement (CEPA) dengan Australia.

"Kalau CEPA dengan Australia itu terbuka, maka ada 1 juta pasar yang terbuka untuk ekspor automotif kita ke sana. Sebab, kami sudah bicara dengan principal, ekspornya akan dari Indonesia," ujar Airlangga.

Menpoerin yakin, apabila upaya-upaya tersebut terealisasi, akan mendongkrak produksi mobil di Indonesia mencapai 2 juta unit per tahun. "Jadi, dalam waktu 2-3 tahun bisa dipercepat ekspornya. Dan, tentunya kita mengharapkan, industri-industri semacam ini terus kita dorong," tandasnya.
(fjo)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak