alexametrics

Ekonom: Utang Capai Rp4.498 Triliun, Tapi Tidak Produktif

loading...
Ekonom: Utang Capai Rp4.498 Triliun, Tapi Tidak Produktif
Meningkatnya utang yang dibuat pemerintah dinilai belum efektif mendongkrak kinerja ekonomi nasional. Foto/Ilustrasi
A+ A-
JAKARTA - Posisi utang pemerintah per akhir Januari 2019 mencapai Rp4.498,56 triliun dengan rasio utang terhadap produk domestik bruto (PDB) mencapai 30,1%. Angka ini meningkat 13,64% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya yang sebesar Rp3.958,66 triliun.

Jika dibandingkan dengan posisi Desember 2018 utang itu naik Rp80,2 triliun dari sebelumnya Rp 4.418,30 triliun. Bertambahnya utang tersebut dikritisi Ekonom Indef Bhima Yudisthira yang menilai utang yang dilakukan pemerintah tersebut tidak produktif.

"Efek dari naiknya utang pemerintah sebesar 10,5% di 2018 dirasa belum signifikan mendorong indikator produktivitas ekonomi. Misalnya, pertumbuhan ekonomi masih berkisar 5,1%, dan pertumbuhan ekspor berada di 6,65%," ujar Bhima saat dihubungi SINDOnews di Jakarta, Kamis (21/2/2019).



Di sisi lain, sambung dia, penggunaan utang pemerintah tersebut faktanya tidak semua dipakai untuk pengeluaran infrastruktur. Bhima mencontohkan, tren belanja pembayaran bunga utang naik 86,9%, belanja barang naik 80,9%, dan belanja pegawai naik 40,5% dalam periode 2014-2018.

Sementara itu, belanja modal yang berkaitan dengan infrastruktur kenaikannya menurut dia hanya 31,4%. Bhima menegaskan, pemerintah tidak bisa hanya melihat efek jangka panjang dari utang. Pemerintah juga diharapkan bisa mengoptimalkan dampak utang dalam jangka pendek.

"Postur belanja dari utang harus diefektifkan untuk pembangunan, bukan lebih banyak masuk ke pos belanja konsumtif. Jika postur saat ini terus dibiarkan maka utang yang masuk lampu kuning bisa berubah menjadi lampu merah," tegasnya.
(fjo)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak