alexametrics

Pengusaha Mal Pede Penjualan Kembali Meningkat Usai Pilpres 2019

loading...
Pengusaha Mal Pede Penjualan Kembali Meningkat Usai Pilpres 2019
Asosiasi Pengusaha Pusat Belanja Indonesia (APPBI) Banten memperkirakan akan adanya lonjakan penjualan ritel di pusat belanja modern dan mal, pasca Pilpres 2019. Foto/Ilustrasi
A+ A-
TANGERANG - Kehadiran bisnis online sedikit banyak mempengaruhi volume kunjungan konsumen ke pusat perbelanjaan atau biasa yang disebut Mal. Namun Asosiasi Pengusaha Pusat Belanja Indonesia (APPBI) Banten menyatakan, sebanyak 95% warganya masih gemar belanja ke toko-toko offline.

Ketua DPD APPBI Banten Heru Nasution menerangkan, hal tersebut menjadi sinyal positif di tengah maraknya shopping online. Data itu, sekaligus membantah sepinya shopping offline atau mal, akibat sistem online.

"Kita lihat e-commerce sekarang ini, yang saya lihat, clik balik ke mal, atau beli online ambilnya di mal,” katanya, ditemui saat Gathering Mal APPBI Banten, di Green Office Park BSD City.



Masih senangnya masyarakat belanja ke mal, terang dia salah satu alasannya karena bisa melihat dan mencoba langsung barang yang akan dibeli. Hal itu, yang membuat mal masih bergariah seiring bergeliatnya belanja online yang semakin marak.

"Clik and break semua balik ke mal, karena kalau beli kan mereka enggak bisa lihat langsung. Jadi, sebenarnya pasar kita itu masih senang melihat dan mencoba. Ketika sudah oke, baru dia beli," sambungnya.

Menurut dia, sebab kenapa mal di Banten, banyak yang sepi disebabkan oleh permasalahan tata kelola mal tersebut, atau pihak managemen yang kurang sehat. "Mal yang enggak berhasil itu, bukan karena online. Tetapi karena manajemennya. Justru sekarang ini, di Indonesia 95% masih offline. Saat ini, alasan masyarakat ke mal, karena untuk menonton bioskop," ungkapnya.

Usai menonton film, biasanya pelanggan mal di Banten, makan bersama teman, orang terkasih, atau keluarga. Baru kemudian, berbelanja ke sejumlah tenant. "Pertama itu ke Cinema, tadinya saya kira kuliner, ternyata kuliner itu kedua. Sekarang ini orang ke mal karena mau nonton. Jadi mal harus berinovasi membuat sesuatu yang lebih disenangi masyarakat," jelasnya.

Ketua Umum DPP APPBI Stefanus Ridwan menambahkan, dalam penelitiannya terhadap prilaku konsumen di Banten, dan Indonesia, saat musim politik saat ini, dirinya melihat ada kecenderungan naik. "Kami memperkirakan akan adanya lonjakan penjualan ritel di pusat belanja modern dan mal, pasca pemilihan Presiden 17 April 2019 yang akan datang," sambung Stefanus.

Dijelaskan dia, lonjakan itu diperkirakan mencapai 10-15%. Prediksi ini, sesuai trend yang terjadi, pada 4-5 yang lalu, di mana usai Pilpres, terjadi lonjakan konsumen di mal dan pusat-pusat perbelanjaan modern.

"Penjualan atau omset juga ikut naik. Sebab, pada saat pencoblosan, pemerintah akan menerapkan hari libur. Begitu juga dengan seterusnya, seperti ada atsmofer baru yang didapat bagi shopping offline kita," jelasnya.

Namun, dengan catatan, selama pemilihan berlangsung damai, dan tidak ada kerusuhan, dan penjarahan, seperti yang terjadi, pada reformasi 1998 waktu lalu. "Pusat belanja dan mal di Banten relatif bagus. Meski ada satu dua pusat belanja yang sepi dan nyaris tutup. Untuk itu, pengelola mal dan pusat belanja harus lebih kreatif mengelola malnya," pungkasnya.
(akr)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Facebook
  • Disqus
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak