alexametrics

Kesadaran Berinvestasi Generasi Milenial Masih Rendah

loading...
Kesadaran Berinvestasi Generasi Milenial Masih Rendah
Minat berinvestasi di kalangan milenial dinilai masih rendah. Foto/Ilustrasi
A+ A-
JAKARTA - Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), kelompok usia 16-30 tahun atau yang sering disebut sebagai generasi milenial saat ini berjumlah sekitar 64,3 juta jiwa. Namun, berdasarkan data Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI), dari kelompok tersebut yang memiliki investasi di pasar modal Indonesia (baik saham maupun reksa dana saham) hanya 1,6 juta jiwa.

Survei yang dilakukan IDN Research Institute bekerja sama dengan Alvara Research Center memiliki hasil yang menarik, yakni hanya 10,7% dari pendapatan generasi milennial yang ditabung, sedangkan 51,1% pendapatan habis untuk kebutuhan bulanan.

"Ini memperlihatkan bahwa kesadaran berinvestasi di kalangan milenial masih belum terlalu besar," ujar Head of Wealth Management & Client Growth Bank Commonwealth Ivan Jaya dalam acara diskusi BizInsight di Jakarta, Selasa (26/2/2019).



Ivan menjelaskan, menabung dan berinvestasi idealnya harus dilakukan sejak muda agar generasi muda dapat mewujudkan tujuan keuangannya di masa mendatang dan aman secara finansial ketika sudah tidak produktif lagi. "Yang menarik, jika dilakukan sedari muda, investasi akan berkembang dengan hasil yang optimal dan tidak tergerus inflasi," tambahnya.

Menurut Ivan, generasi milenial yang senang melakukan hobinya seperti traveling juga dapat berinvestasi karena saat ini investasi tidak lagi membutuhkan modal yang besar. Meski demikian, dalam mewujudkan kemapanan finansial, generasi milenial perlu menerapkan prinsip keuangan di mana rencana jangka pendek atau jangka panjang dapat diprioritaskan jika kita dapat mengatur keuangan dengan baik.

Ivan melanjutkan, idealnya dalam perencanaan keuangan ada tiga hal yang harus dipenuhi yakni dana darurat, asuransi, dan investasi. Ada beberapa prinsip keuangan yang dapat dilakukan dengan mudah, salah satunya adalah Prinsip 20:30:50, di mana langsung mengalokasikan 20% dari pendapatan untuk tabungan dan investasi (save), 30% untuk membayar cicilan dan hiburan (want), serta 50% untuk kebutuhan hidup sehari-hari (need).

"Jika mendapatkan THR/Bonus nanti, sisihkan 20-30% untuk dana cadangan. Jika disiplin dalam melakukan hal tersebut, kita dapat secara leluasa memenuhi rencana jangka pendek maupun jangka panjang," jelas Ivan.

Bank Commonwealth menjadi bank asing pertama yang berpartisipasi dalam Program Simpanan Mahasiswa dan Pemuda (SiMuda) yang diluncurkan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada akhir tahun lalu. Program SiMuda ini merupakan program untuk terus meningkatkan literasi dan inklusi keuangan masyarakat Indonesia terutama generasi muda.
(fjo)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak