alexametrics

Optimisme Terapkan Industri 4.0 di ASEAN, RI Ungguli Singapura

loading...
Optimisme Terapkan Industri 4.0 di ASEAN, RI Ungguli Singapura
Optimisme Indonesia dalam menerapkan industri 4.0 termasuk yang tertinggi di ASEAN. Foto/Ilustrasi
A+ A-
JAKARTA - Indonesia menjadi salah satu negara dengan optimisme tinggi terhadap kesiapan implementasi industri 4.0 di tingkat ASEAN. Hal ini tercermin dari peluncuran peta jalan Making Indonesia 4.0 April tahun lalu dan penerapan digitalisasi industri oleh sejumlah perusahaan manufaktur di dalam negeri.

"Dengan industri 4.0, Indonesia akan keluar sebagai salah satu bangsa juara pada tahun 2030. Bahkan, menurut PricewaterhouseCoopers (PwC), di saat itu kita bisa menjadi negara nomor tujuh dengan perekonomian terkuat di dunia. Maka yang harus kita dorong adalah optimisme," ujar Menperin di Jakarta, Kamis (28/2/2019).

Menperin juga menyebutkan, berdasarkan hasil riset McKinsey, Indonesia menempati posisi kedua sebagai negara dengan optimisme tertinggi dalam menerapkan industri 4.0, yakni sebesar 78%. Di atas Indonesia terdapat Vietnam dengan persentase sebesar 79%, sedangkan peringkat di bawah Indonesia ada Thailand dengan persentase sekitar 72%, Singapura 53%, Filipina 52% dan Malaysia 38%.



"Survei ini dilakukan kepada supplier teknologi dan manufaktur di ASEAN. Dari jawaban mereka, sebanyak 93% mengatakan bahwa industri 4.0 adalah peluang, kemudian tingkat kesadaran untuk menerapkan sebesar 81% dan pertumbuhan dalam optimisme 63%," paparnya.

Riset McKinsey juga menunjukkan, industri 4.0 akan berdampak signifikan pada sektor manufaktur di Indonesia. Misalnya, digitalisasi bakal mendorong pertambahan sebanyak USD150 miliar atas hasil ekonomi Indonesia pada tahun 2025. Sekitar seperempat dari angka tersebut, atau senilai USD38 miliar, dihasilkan oleh sektor manufaktur.

"Industri manufaktur selama ini konsisten menjadi tulang punggung bagi pertumbuhan ekonomi nasional. Ini dilihat dari kontribusi besarnya terhadap produk domestik bruto (PDB) yang mencapai lebih dari 19%," ungkap Airlangga.

Untuk itu, guna mengoptimalkan kinerja industri manufaktur nasional, diperlukan upaya akselerasipenerapan teknologi digital. Adapun teknologi yang menjadi penentu keberhasilan pada adaptasi industri 4.0, antara lain internet of things, big data, cloud computing, artificial intelligence, mobility, virtual and augmented reality, sistem sensor dan otomasi, serta virtual branding.

Menperin menjelaskan, industri 4.0 merupakan sebuah lompatan besar pada sektor manufaktur melalui pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi secara maksimal. Tidak hanya dari segi produksi, namun juga keseluruhan rantai nilai untuk mencapai efisiensi yang optimal sehingga melahirkan model bisnis baru yang berbasis digital.

Inisiatif industri 4.0 tidak hanya memiliki potensi luar biasa dalam mendorong perubahan kebijakan sektor manufaktur, tetapi juga mampu mengubah berbagai aspek kehidupan peradaban manusia.

"Oleh karenanya, berbagai negara telah memasukkan industri 4.0 ke dalam agenda nasional mereka untuk dapat meningkatkan daya saingnya dalam kancah global," terangnya.

Making Indonesia 4.0 telah memilih lima sektor manufaktur yang akan menjadi pionir penerapan era digitalisasi, yakni industri makanan dan minuman, tekstil dan pakaian, automotif, kimia, serta elektronika. Kelompok manufaktur ini dipilih karena berkontribusi tinggi terhadap ekonomi nasional, dengan sumbangsih hingga 60% pada PDB, nilai ekspor dan penyerapan tenaga kerja.

Implementasi industri 4.0 diperkirakan membuka peluang kerja hingga 17 juta orang yang melek teknologi digital, dengan komposisi 4,5 juta orang dari sektor manufaktur dan 12,5 juta orang dari industri penunjangnya. "Guna memenuhi kompetensi SDM tersebut, memang kita harus melakukan retraining skill untuk pekerjaan baru," ujarnya.
(fjo)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak