alexametrics

BI Diprediksi Masih Akan Tahan Suku Bunga Acuan

loading...
BI Diprediksi Masih Akan Tahan Suku Bunga Acuan
Bank Indonesia (BI) diprediksi akan tetap menahan suku bunga acuan di angka 6%. Foto/Ilustrasi
A+ A-
JAKARTA - Bank Indonesia (BI) diprediksi akan menahan BI 7-day Reverse Repo Rate (BI7DRR) tetap sebesar 6%. Faktornya adalah melihat risiko global yang masih tinggi dan sikap kebijakan The Fed yang masih menahan bunga acuannya.

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira memandang, rilis beberapa data internasional juga menjadi kekhawatiran adanya aliran modal keluar pada Maret ini. Data Indeks manufaktur ISM (Institute for Supply Management) AS menunjukkan penurunan manufaktur terendah sejak November 2016.

"Data indeks kepercayaan konsumen versi Michigan University yang rendah bulan Februari. Serta data US Commerce Dept menunjukkan tingkat inflasi dan pendapatan rumah tangga anjlok untuk pertama kalinya sejak tiga tahun terakhir," kata Bhima saat dihubungi, Senin (4/3/2019).



Sementara itu, investor asing mulai mencatatkan net penjualan bersih di bursa saham Rp1,63 triliun sepekan terakhir mengantisipasi laporan keuangan beberapa emiten yang tidak sesuai ekspektasi.

Menurut dia, aksi jual ini berisiko menekan rupiah. Maka dari itu, lebih baik BI bersikap wait and see terlebih dahulu. "Tren perekonomian dunia masih akan berkisar 3-3.5% hingga 2020. Perang dagang mempengaruhi kinerja motor utama ekonomi dunia baik China, AS dan Eropa," ungkapnya.

Kepala Ekonom BNI Ryan Kiryanto mengungkapkan, dengan mempertimbangkan tren kebijakan moneter global yang cenderung melonggar atau dovish, besar kemungkinan sampai berakhirnya kuartal pertama 2019 ini dan berlanjut hingga semester pertama 2019 ini BI belum akan menaikkan BI7DRR atau bunga acuan.

Langkah ini penting untuk menjaga momentum pertumbuhan di tengah melemahnya perekonomian sejumlah negara (AS, China, Jepang, Eropa) dan arah ekspektasi inflasi domestik yang melandai sesuai sasaran di 3,5%.

"Dengan langkah ini pula nilai tukar rupiah terhadap dolar AS masih akan stabil di kisaran Rp14.000-an di sepanjang 2019 karena real effective interest rate dalam rupiah masih menarik bagi investor asing," ujar Ryan saat dihubungi. Bahkan, kata dia, ada hal yang menggembirakan dimana ada kemungkinan besar the Fed hanya akan menaikkan FFR satu kali tahun ini menjadi 2,5-2,75%. "Atau bahkan tidak menaikkan sama sekali alias bertahan di level 2,25-2,5%," imbuhnya.

Hal tersebut bertujuan untuk mengantisipasi koreksi pertumbuhan ekonomi AS di tengah inflasinya yang juga menjauh dari 2%.

Peneliti Center of Reforms on Economics (CORE) Piter Abdullah pun masih meyakini BI tetap akan menahan suku bunga. Akan tetapi, suku bunga acuan bisa turun kalau the fed menurunkan suku bunga, dan kondisi domestik, nilai tukar dan inflasi stabil rendah.

Di luar kondisi itu, menurut dia terlalu berisiko untuk BI menurunkan suku bunga. Kalau BI menurunkan suku bunga saat the Fed menahan suku bunga, interest rate differential akan menyempit, ada risiko tertahan atau bahkan berbaliknya arus modal asing yang masuk. "Dampaknya akan menekan rupiah," kata dia.

Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Mirza Adityaswara memperkirakan, kenaikan suku bunga Fed Fund Rate (FFR) akan lebih rendah dan pengurangan neraca bank sentral menjadi lebih kecil dari rencana. Perkembangan ekonomi dan keuangan global tersebut di satu sisi memberikan tantangan dalam mendorong ekspor, namun di sisi lain meningkatkan aliran masuk modal asing ke negara berkembang, termasuk Indonesia.
(fjo)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak