alexametrics

Schneider Electric Berdayakan Perempuan di Industri

loading...
Schneider Electric Berdayakan Perempuan di Industri
Schneider Electric berkomitmen terus mempromosikan kesetaraan gender di sektor energi dan otomasi melalui berbagai program perusahaan. Foto/Ilustrasi
A+ A-
JAKARTA - Schneider Electric berkomitmen terus mempromosikan kesetaraan gender di sektor energi dan otomasi melalui berbagai program perusahaan. Produsen yang fokus pada transformasi digital itu pun berinisiatif memberdayakan perempuan serta mengkampanyekan praktik-praktik inklusif di lingkungan kerjanya.

“Kami di level global saat ini mempekerjakan 35% dari total pekerja kami di dunia adalah perempuan. Bahkan 22% di antara mereka berada di posisi puncak manajemen yang bertangung jawab kepada CEO,” ujar Chief Human Resources Officer Schneider Electric Olivier Blum dalam diskusi terkait peringatan Hari Perempuan Internasional di Jakarta.

Dia menambahkan, dalam memperjuangkan kesetaraan jender di sektor industri, ada beberapa tantangan yang dihadapi. Di antaranya bagaimana membuat program dan kebijakan yang selaras dengan kebutuhan perusahaan. “Tantangan itu kami rasakan empat tahun lalu. Saat ini jauh lebih baik, kami lebih inklusif sehingga lambat laun bisa mengubah kultur di perusahaan,” ujar dia.



Dalam pengembangan sumber daya manusia (SDM), kata Olivier, Schneider juga berupaya menerapkan aturan terhadap karyawan sesuai dengan prinsip family policy yang berlaku secara global. “Termasuk memberikan hak cuti kepada karyawan pria yang istrinya melahirkan dan cuti khusus untuk program family care apabila ada anggota keluarga yang sakit,” ujar dia.

Sementara itu, perwakilan dari Society of Women Engineers Christina Winata mengatakan, kaum perempuan memang terkesan kurang terwakili dalam sektor teknik dan teknologi, yang secara historis dianggap sebagai wilayah dominasi laki-laki. Namun, fakta tersebut perlahan mulai terkikis karena saat ini perempuan tampil hampir di hampir semua sektor industri.

“Dulu, 15 tahun lalu hanya ada satu dari sepuluh orang instruktur di programing. Sekarang makin bertambah, ada empat orang dari sepuluh orang yang jadi instruktur,” ujar Christina.

Sambung dia menerangkan ada beberapa tantangan yang dihadapi perempuan dalam keterlibatannya di sektor industri atau engineering. “Tantangannya adalah stereotipe dari kita sendiri,” ujarnya.

Menurut dia, untuk melawan stereotipe perempuan itu ada beberapa langkah yang harus dilakukan. Yakni, perbaikan pendidikan, pemahaman akan teknlologi serta pemanfaatan jaringan.

“Ketika memasuki Revolusi Industri, teknik dan teknologi memegang kunci untuk memperkuat visi Making Indonesia 4.0, Karena kalangan industri seperti Schneider Electric perlu menjadi agen perubahan untuk mengubah citra dan meningkatkan pemahaman perempuan untuk mendorong penyerapan karier di sektor tersebut,” katanya.
(akr)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak