alexametrics

Harga Minyak Dunia Turun Terbebani Pasokan AS dan Peringatan ECB

loading...
Harga Minyak Dunia Turun Terbebani Pasokan AS dan Peringatan ECB
Harga minyak mentah dunia jatuh pada perdagangan, Jumat (8/3/2019) setelah Bank Sentral Eropa (ECB) memperingatkan kelemahan ekonomi akan terus berlanjut. Foto/Ilustrasi
A+ A-
SINGAPURA - Harga minyak mentah dunia jatuh pada perdagangan, Jumat (8/3/2019) setelah Bank Sentral Eropa (ECB) memperingatkan kelemahan ekonomi akan terus berlanjut. Selanjutnya tekanan juga datang dari produksi dan ekspor minyak mentah Amerika Serikat (AS) mengejar rekor baru, untuk merusak upaya produsen OPEC untuk memperketat pasokan global.

Seperti dilansir Reuters hari ini, harga minyak mentah berjangka AS yakni West Texas Intermediate (WTI) diperdagangkan pada level USD56,39 per barel atau mengalami penurunan hingga 27 sen yang setara 0,5% dibandingkan sesi terakhir sebelumnya. Sementara harga minyak mentah berjangka Brent yang menjadi patokan Internasional lebih rendah 34 sen atau 0,5% menjadi USD65,96 per barel.

Pasar keuangan, termasuk sektor minyak mentah terpukul usai Presiden ECB Mario Draghi mengatakan, bahwa perekonomian berada dalam "periode kelemahan yang berkelanjutan dan ketidakpastian yang terus menyebar". Kelemahan ekonomi Eropa datang karena pertumbuhan di Asia juga melambat. Perlambatan pertumbuhan ekonomi juga kemungkinan akan mengakibatkan terhentinya permintaan bahan bakar, sehingga menekan harga minyak mentah dunia.



Sementara dari sisi penawaran, harga mendapatkan dukungan tahun ini dari pengurangan produksi yang dipimpin oleh Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC). Bersama dengan beberapa produsen non-afiliasi seperti Rusia, kelompok produsen tersebut telah berjanji untuk menahan produksi sekitar 1,2 juta barel per hari (bpd) untuk memperketat pasar dan menopang harga.

Tetapi upaya OPEC bersama dengan sekutunya telah dirusak oleh melonjaknya produksi minyak mentah AS, yang telah meningkat lebih dari 2 juta barel per hari sejak awal 2018, menjadi 12,1 juta barel per hari yang belum pernah terjadi sebelumnya. Itu menjadikan Amerika Serikat menjadi produsen terbesar di dunia, di atas Rusia dan Arab Saudi.
(akr)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak