alexametrics

Genjot Investasi dan Ekspor, Jokowi Ingin Bentuk Dua Kementerian Khusus

loading...
Genjot Investasi dan Ekspor, Jokowi Ingin Bentuk Dua Kementerian Khusus
Presiden Joko Widodo berbicara di Rapat Koordinasi Nasional Investasi 2019 di Tangerang, Selasa (12/3/2019). Foto/Rina Anggraeni
A+ A-
TANGERANG - Investasi dan ekspor menjadi perhatian pemerintah khusus untuk mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia. Untuk itu, Presiden Joko Widodo (Jokowi) berencana membentuk dua Kementerian khusus untuk meningkatkan kinerja kedua hal tersebut.

Hal ini sudah dibicarakan saat rapat kabinet bersama beberapa menteri. Dua kementerian khusus itu dinilai penting karena peningkatan investasi dan ekspor merupakan poin utama untuk meningkatkan pertumbuhan.

"Saya sudah sampaikan di rapat kabinet. Apakah dalam situasi seperti ini perlu menteri investasi dan menteri ekspor khusus? Wong negara lain juga sama. Menteri khusus investasi dan menteri khusus ekspor. Jadi ada dua menteri," ujar Joko Widodo sela Rapat Koordinasi Nasional Investasi 2019 di Tangerang, Selasa (12/3/2019).



Jokowi mengaku geregetan ingin segera menerapkan solusi untuk meningkatkan investasi dan ekspor. "Saya yang paling gereget itu kita tahu kesalahan kita, ngerti solusinya, ngerti jalan keluarnya, tapi enggak bisa tuntaskan. Saya akan lihat alur mana yang enggak bener di titik tertentu," tandasnya.

Presiden kembali menegaskan bahwa pertumbuhan ekonomi yang baik perlu didukung kinerja investasi dan ekspor yang prima. Untuk itu, tegas Presiden, memperbaiki ekspor dan investasi perlu segera dilakukan.

"Saya sudah berkali-kali sampaikan bahwa kunci pertumbuhan ekonomi itu ada dua yaitu investasi dan ekspor. Kita sudah terlalu lama sekali ekspornya bahan mentah. Sudah puluhan tahun enggak berani masuk ke hilirisasi industri. Para gubernur, bupati, walikota harus dorong itu. Kuncinya situ," tegasnya.
(fjo)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak