alexametrics

Butuh Rp571 Triliun untuk Pembangunan Transportasi Jabodetabek

loading...
Butuh Rp571 Triliun untuk Pembangunan Transportasi Jabodetabek
Presiden Joko Widodo bersama Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan menjajal MRT. Foto/SINDOnews/Rina Anggraeni
A+ A-
JAKARTA - Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengatakan, kehadiran Mass Rapid Transit (MRT) membuat Indonesia khususnya Jakarta memiliki peradaban baru. Seiring itu, Jokowi berkeinginan agar transportasi di Jakarta bisa semakin terintegrasi dan modern.

Untuk itu, Jokowi menyatakan pembangunan MRT fase kedua akan mulai dilakukan pada pekan depan. MRT fase kedua memiliki rute Stasiun Bundaran HI, Jakarta Selatan sampai kawasan Kota Tua, Jakarta Utara.

Selain pembangunan proyek MRT fase II, pemerintah juga menyiapkan pembangunan yang menghubungkan semua kawasan Jabodetabek. Dan selanjutnya beberapa wilayah di Indonesia.



"Tadi sudah dihitung, untuk pembangunan transportasi terintegrasi di Jabodetabek itu butuh Rp571 triliun," ujar Jokowi saat menjajal MRT bersama menteri Kabinet Indonesia Kerja dan Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan, Selasa (19/3/2019).

Terkait dananya, Jokowi mengatakan masih akan mendiskusikan dengan Menteri Keuangan Sri Mulyani. Hal ini agar tidak membebani Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara. Baca: Jokowi Jajal MRT Bersama Kabinet Kerja dan Anies Baswedan

"Soal dana, nanti kita bahas dengan ibu Menteri Keuangan. Pembagiannya nanti sama Menkeu, Gubernur DKI dan pimpinan daerah lainnya," jelasnya.

Jokowi menegaskan dirinya terus melakukan komunikasi yang intens dengan para kepala daerah, untuk memperbaiki transportasi di Indonesia, sehingga bisa menggerakan perekonomian. Baca: Jokowi: MRT Hadirkan Peradaban Baru

"Tadi sudah bicara sama Gubernur DKI Jakarta, Wali Kota Depok, Tangerang, Bekasi, dan Bogor. Jadi kita membangun perencanaan secara matang," terangnya.
(ven)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak