alexametrics

Pemilu Diyakini Tak Berpengaruh ke Pergerakan Harga Saham

loading...
Pemilu Diyakini Tak Berpengaruh ke Pergerakan Harga Saham
Bursa Efek Indonesia (BEI) menyakini pemilihan umum (Pemilu) tidak akan berpengaruh kepada pergerakan harga Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) seperti dalam tiga Pemilu sebelumnya. Foto/Ilustrasi
A+ A-
JAKARTA - Bursa Efek Indonesia (BEI) menyakini pemilihan umum (Pemilu) tidak akan berpengaruh kepada pergerakan harga Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Gelaran pemilu nanti memang akan berdampak terhadap bursa saham domestik, namun tidak akan berpengaruh secara signifikan.

"Saya katakan untuk 3 Pemilu sebelumnya kita lihat korelasinya tidak terlalu banyak. Makanya harapannya tahun ini korelasinya juga tidak terlalu banyak," kata Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI) Inarno Djajadi saat Lunch Meeting Direksi BEI dengan Wartawan Pasar Modal di Jakarta, Rabu (20/3/2019).

Meski demikian, dia menyatakan masih terdapat banyak tantangan sepanjang tahun 2019 ini di antaranya masih menunggu kinerja keuangan emiten tahun 2018 apakah hasilnya bagus atau tidak. Lalu tantangan berikutnya yakni produk-produk saat ini dipasar modal masih kurang. "Maka dari itu, di 2019 kita akan meningkatkan produk di pasar modal," ucapnya.



Selanjutnya, defisit transaksi berjalan atau Current Account Defisit (CAD) masih menjadi tantangan tersendiri. Begitupun dengan kapasitas sumber daya manusia (SDM) yang perlu terus ditingkatkan.

Tantangan pada dunia masih seperti biasa yakni adanya kebijakan the fed lalu ketegangan dagang AS dengan Cina dan proyeksi perlamabatan ekonomi global menjadi 3,5%. "Volatilitas harga minyak dan juga Brexit yang juga belum kunjung selesai. Ini tantangan eksternal yang berpengaruh ke domestik kita," imbuhnya.

Direktur Penilaian Perusahaan BEI I Gede Nyoman Yetna menambahkan, pada tahun 2019 ini, BEI menargetkan sebanyak 75 emiten baru mencatatkan sahamnya di bursa. Berbagai upaya dilakukan oleh BEI untuk mencapai target tersebut dengan upaya dan inisiatif yang memadai dan efektif.

Sambung dia memaparkan, beberapa upaya yang dilakukan oleh BEI untuk meningkatkan jumlah Perusahaan antara lain Go Public Branding, dimana dalam rangka meningkatkan awareness perusahaan di Indonesia mengenai Pasar Modal dan Go Public, saat ini BEI meningkatkan program kampanye mengenai manfaat Go Public.

Selanjutnya institutional Relations. Saat ini, BEI berupaya mengoptimalisasikan sinergi dengan berbagai institusi di Indonesia dalam upaya memberikan awareness bagi perusahaan di Indonesia untuk melakukan Penawaran Umum Perdana dan dapat melakukan pencatatan saham di BEI. Menurut dia, kerja sama institusional tersebut dilakukan secara bertahap dan berkelanjutan agar dapat memudahkan Perusahaan di Indonesia melakukan pendanaan melalui pasar modal.

Ditambah High Level Approach dimana bursa berupaya untuk melakukan diskusi dan memberikan awareness kepada pemilik usaha di Indonesia untuk memperkenalkan pendanaan melalui pasar modal. "Kegiatan ini akan dilakukan bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Lembaga Profesi Penunjang Pasar Modal," beber Nyoman.

Sedangkan upaya terakhir adalah Stakeholder Engagement. Tidak hanya melalui pendekatan eksternal, BEI juga mengajak seluruh karyawan SRO untuk dapat turut serta menyukseskan target 75 Pencatatan Baru di BEI pada tahun 2019, melalui koneksi internal yang dimiliki oleh insan Bursa yang berpotensi untuk mencari pendanaan melalui pasar modal.

Tidak hanya dari sisi peningkatan jumlah Perusahaan Tercatat, sambung Nyoman, BEI juga terus melakukan berbagai kegiatan dalam meningkatkan jumlah investor. Hal tersebut dilakukan melalui kegiatan edukasi dan sosialisasi pasar modal kepada berbagai lapisan masyarakat.

Dalam beberapa tahun terakhir, terdapat berbagai inovasi dalam sisi penyebaran konten, melalui iklan di televisi, radio, dan aktivasi social media BEI, yang termasuk dalam pendekatan “above the line”. Tidak hanya itu, kegiatan literasi, inklusi, dan aktivasi investor juga diselenggarakan dan termasuk dalam pendekatan “below the line”, yang mengutamakan interaksi dan praktik “learning by doing” serta melibatkan Anggota Bursa secara aktif.

Menurut Nyoman, pendekatan tersebut telah membuahkan hasil baik, yaitu peningkatan jumlah investor saham sebesar 36% pada akhir 2018 dari tahun 2017 dan menciptakan rekor pertumbuhan jumlah investor tertinggi, yaitu sebanyak 223.749 investor baru dalam 1 tahun. Apalagi pertumbuhan jumlah investor tersebut didominasi oleh Generasi Milenial atau dalam rentang usia 18-30 tahun yang meningkat lebih dari 100% dalam 2 tahun terakhir.
(akr)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak