alexametrics

Lembaga ACT Optimistis Himpun Wakaf Rp400 Miliar di Tahun 2019

loading...
Lembaga ACT Optimistis Himpun Wakaf Rp400 Miliar di Tahun 2019
Lembaga ACT optimistis himpun wakaf Rp400 miliar di tahun 2019. Foto/SINDOnews/Hafid Fuad
A+ A-
JAKARTA - Lembaga kemanusiaan Aksi Cepat Tanggap (ACT) melalui Global Wakaf optimistis sepanjang tahun ini dapat menghimpun dana wakaf sebesar Rp400 miliar demi mewujudkan korporasi wakaf. Target tersebut cukup signifikan dibandingkan pencapaian tiga tahun terakhir yang baru menghimpun dana wakaf Rp100 miliar.

Presiden ACT, Ahyudin, mengatakan ACT siap mengedukasi masyarakat Indonesia tentang pentingnya wakaf untuk menekan kemiskinan dan membangun infrastruktur. Edukasi dibutuhkan karena mayoritas pemahaman tentang wakaf hanya sebatas lahan untuk masjid atau kuburan. Sedangkan harta wakaf seharusnya bersifat produktif dan menggerakkan perekonomian masyarakat.

"Saat nanti dana wakaf mencapai Rp1 triliun baru dampaknya signifikan untuk perekonomian. Karena itu wakaf harus dikelola secara korporasi oleh ahlinya. Nantinya wakaf juga bisa jadi industri," ujar Ahyudin dalam diskusi dengan tema "Meneropong Masa Depan Makro Ekonomi Nasional dan Peran Strategis Wakaf dalam Pengentasan Kemiskinan". Diskusi tersebut menghadirkan Faisal Basri dengan dipandu praktisi komunikasi Zaim Uchrowi sebagai moderator.



Ahyudin menyampaikan, ACT mempunyai tim khusus untuk mengelola perusahaan yang dibiayai kes wakaf. Dana wakaf melahirkan perusahaan kemudian perusahaannya dikelola oleh orang yang handal mengelola perusahaan. "Sebab pokok wakaf tidak boleh hilang, kalau wakaf tahan (simpan) pokoknya, hasilnya didistribusikan, jadi harus jagoan betul, perusahaan benar-benar harus dikelola oleh profesional," ujarnya, Kamis (21/3/2019).

Dia juga berpandangan, saat ini yang paling strategis adalah wakaf uang atau wakaf tunai. Supaya pengelola wakaf bisa kreatif menghasilkan perusahaan wakaf yang tepat dan sesuai. Menurutnya, wakaf saham baru bisa terjadi kalau inisiasi perusahaan wakaf sudah besar kontribusinya. Setelah itu ACT akan kampanyekan agar para pemilik perusahaan mewakafkan perusahaannya.

Salah satu proyek ACT adalah mengkolaborasikan kekuatan lokal masyarakat Sumbawa di Nusa Tenggara Barat. Kekuatan tersebut berbentuk bisnis jagung. Sampai saat ini, Global Wakaf mengelola 3.500 hektar kebun jagung yang dikelola oleh sekitar 1.200 keluarga.

"Kapasitas panen jagung baru 50 ribu ton per tahun, target pasarnya masih domestik. Kami juga sinergikan dengan program yang lain misalnya lumbung ternak wakaf. Jadi semua saling terintegrasi," katanya.

Dia menjelaskan, kebun jagung tersebut terintegrasi dengan lumbung ternak wakaf. Artinya jagung yang dihasilkan bisa dijual ke lumbung ternak wakaf untuk pakan ternak. Lumbung ternak binaan ACT sudah mengelola sekitar 25 ribu ekor hewan ternak yang pakannya bergantung kepada jagung.

Jagung akan dijadikan salah satu komoditas program lumbung ternak wakaf. Selain itu Global Wakaf juga membangun lumbung pangan wakaf yang mengelola sawah, Global Wakaf membangun huller-huller di berbagai daerah. Semuanya diintegrasikan agar tercipta ekosistem wakaf perusahaan di sana.

Pakar ekonomi Faisal Basri menilai dana wakaf bisa digunakan untuk membangun pabrik demi menambah nilai keekonomian bahan baku. Sementara saat ini masyarakat Indonesia masih lemah dalam menghasilkan produk olahan dan masih sekedar menjual bahan mentah.

Karena itu dia mendorong pengelolaan dana wakaf yang dihimpun dapat digunakan untuk membangun industri manufaktur. Cara ini diyakini akan efektif meningkatkan kesejahteraan masyarakat khususnya umat muslim.

"Sudah ada wakaf untuk membuka warung dan macam-macam, tetapi belum ada yang digunakan untuk mengembangkan pabrik. Misalnya untuk mengolah bahan baku agar menambah nilai keekonomian," kata Faisal dalam kesempatan sama.

Faisal mencontohkan dana wakaf bisa digunakan untuk mendirikan pabrik yang mengolah cabai menjadi bubuk cabai atau sambal. Hal itu bisa menyerap hasil petani saat panen raya ketika pasokan berlebih.

Dengan begitu, petani tidak bergantung pada penjualan hasil panen ke pasar yang harganya berfluktuasi sehingga kerap merugikan saat panen raya. "Pengolahan juga membuat cabai bisa disimpan hingga beberapa tahun. Harganya juga menjadi relatif lebih stabil setelah diolah," tutur Faisal.

Faisal mencontohkan penjual tahu bulat yang menggunakan bubuk cabai. Sudah sejak lama, harga tahu bulat stabil Rp500 karena tidak terganggu harga bubuk cabai yang naik turun. "Meskipun harganya tetap, ukurannya juga tidak menjadi lebih kecil. Bandingkan dengan penjual makanan lain yang bergantung pada cabai segar," katanya.

Karena itu, Faisal mendorong Aksi Cepat Tanggap (ACT) untuk bisa mengembangkan dana wakaf untuk usaha-usaha produktif yang pada akhirnya dikembalikan pada kesejahteraan umat.
(ven)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak