alexametrics

Ekonomi Amerika Latin Diprediksi Lebih Cepat Dibandingkan Asia

loading...
Ekonomi Amerika Latin Diprediksi Lebih Cepat Dibandingkan Asia
Ekonomi Amerika Latin diprediksi tumbuh lebih cepat dibandingkan Asia. Foto/Istimewa
A+ A-
NEW YORK - Abad 20 selalu dikaitkan dengan Asia, berkat pertumbuhan ekonomi pesat, yang dikomandani oleh Republik Rakyat China. Namun Bumi berputar. Kisah menakjubkan pertumbuhan ekonomi Asia, tampaknya disaingi bahkan akan dilewati oleh kawasan Amerika Latin pada tahun depan.

Melansir dari Forbes, Jumat (29/3/2019), Barclays Capital, bank investasi global asal Inggris, mengatakan negara-negara di Amerika Latin memiliki kisah pertumbuhan ekonomi yang lebih baik dibandingkan pasar berkembang di Asia.

Mereka bahkan memprediksi Venezuela, yang saat ini ekonominya sedang terpuruk, bakal bangkit dan mengalami pertumbuhan positif di tahun depan.



Barclays lantas mengacu dari rata-rata pertumbuhan negara-negara Amerika Latin, seperti Brasil yang pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) naik dari 2,2% menjadi 2,6%. Perekonomian Kolombia meningkat dari 3,5% menjadi 4%. Argentina pun beralih dari resesi ke pertumbuhan ekonomi 2,2% pada tahun depan.

"Memang ini baru prediksi. Tetapi bila perkiraan ini terbukti benar maka terjadi sebuah ledakan ekonomi," tulis mereka.

Kekuatan ekonomi Amerika Latin akan ditambah dengan Meksiko, yang pertumbuhan ekonominya naik dari 1,8% pada tahun ini menjadi 2% pada tahun 2020.

Pertumbuhan ekonomi Amerika Latin juga menarik minat bagi perusahaan investasi global. "Eksposur kami selama ini berkutat di pasar negara berkembang di Asia, tetapi kami melihat Brasil memiliki peluang cerah," ujar Bozidar Jovanovic, wakil presiden dan ahli strategi investasi di Bank Leumi di New York, Amerika Serikat.

Brasil adalah negara terluas dengan jumlah penduduk terbesar di Amerika Selatan, 212 juta jiwa, merupakan pasar yang menggiurkan. Data MSCI Emerging Markets menyebut investasi di Brasil dan Kolombia telah meningkat, mengalahkan ekspektasi.

Selanjutnya adalah Meksiko. Meski tahun 2018, pertumbuhan ekonomi mereka lebih lembut dari perkiraan, namun analis Barclays, Marco Oviedo, mengatakan, Meksiko memiliki kondisi untuk rebound pada kuartal I-2019 seiring ketidakpastian global akibat konflik dagang Amerika Serikat dengan China.

Pertumbuhan lapangan kerja yang stabil, upah yang meningkat, telah mengangkat daya beli masyarakat. Apalagi masalah sengketa perdagangan telah selesai, setelah Washington dan Mexico City meneken pakta perdagangan baru menggantikan ketidakpastian NAFTA.

Argentina walau ekonominya masih jelek tetapi sedang dalam tahap perbaikan. Data ekonomi Barclays menyebutkan, pertumbuhan ekonomi bulan Januari dan Februari menunjukkan tren kemajuan.

Argentina mulai mengatur ekonominya, dimana pada kuartal II-2019 diperkirakan terjadi panen komoditas dan daya beli masyarakat akan meningkat seiring pemulihan upah tenaga kerja.

Bank-bank sentral di wilayah tersebut juga diperkirakan tetap menahan suku bunga untuk menjaga daya beli. "Bahkan bank sentral Brasil mulai memberi sinyal untuk menurunkan suku bunga di tahun ini," kata James Barrineu, manajer dana obligasi di Schroders di New York.

Dan keuntungan dari pertumbuhan ekonomi Amerika Latin adalah akibat ketidakpastian global. Seiring ancaman resesi di Amerika Serikat, The Fed memilih bersikap dovish terhadap suku bunga. Hal ini membuat dolar Amerika Serikat tidak segalak tahun lalu. The Fed harus memberikan lebih banyak ruang dan waktu untuk menyesuaikan kebijakan moneter dalam menanggapi masalah domestik.

Konflik dagang antara Amerika Serikat dan China telah mengganggu beberapa negara di Asia. Pertumbuhan ekonomi China pun melambat. Ahli strategi ekonomi dari BlackRock, Richard Turnill, mengatakan China harus bisa mengatur panggung agar tetap menjadi hot spot. Jika China bisa meningkatkan perdagangan di Asia Tenggara, maka pertumbuhan ekonomi Asia akan menjadi lebih baik daripada empat negara di Amerika Latin.
(ven)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak