alexametrics

Tarif Pesawat Diprediksi Tidak Turun Sampai Tiga Bulan Mendatang

loading...
Tarif Pesawat Diprediksi Tidak Turun Sampai Tiga Bulan Mendatang
Ilustrasi tarif tiket pesawat. Foto/SINDOnews
A+ A-
JAKARTA - Harga tiket pesawat yang tinggi diprediksi masih memberikan andil inflasi dalam rentang waktu tiga bulan ke depan. Pengamat penerbangan, Gatot Rahardjo, menilai saat ini masakapai cenderung sulit menurunkan tarif tiket pesawat karena terbebani biaya leasing pesawat.

"Jadi kalau harga tiket mau diturunkan, pemerintah harus bantu maskapai mengatasi biaya sewa pesawat melalui negosiasi bersama dengan lessor pesawat," ujarnya kepada SINDO di Jakarta, Senin (1/4/2019)

Langkah pemerintah yang turun langsung mengatasi persoalan tarif tiket pesawat tidak akan cukup hanya dengan mengatur formula tarif batas bawah dan tarif batas atas pesawat.



"Waktu Lion Air membeli pesawat, baik itu Boeing dari Amerika Serikat dan Airbus dari Prancis, dua presiden negara itu turun tangan langsung. Jadi seharusnya pemerintah kita juga ikut membantu negosiasi, biar pembayaran sewa bisa lebih ada solusi untuk menekan harga tarif tiket pesawat," ungkapnya.

Dia memprediksi dalam rentang waktu tiga bulan ke depan, tarif tiket tidak akan turun. Sebab, periode April masih masa low season. Sedangkan peak season mulai di bulan Mei dan Juni dengan permintaan yang besar.

"Kalau low season, ya harga tarif susah turunnya. Sedangkan untuk peak season dengan demand yang tinggi, tentu maskapai juga cari aman dengan tidak mau menurunkan serta merta tarifnya di musim mudik," ungkapnya.

Dia menambahkan, meski ada ada diskon tarif yang ditawarkan sejumlah maskapai, namun diskon tarif tersebut dengan jumlah kursi yang terbatas. "Misalnya Garuda dan Lion Group memang ada diskon tarif, tapi itu juga terbatas kursi yang ditawarkan. Tentu kursi yang lain tetap ditawarkan dengan harga maskapai. Adapun diskon tarif ini biasanya tidak berlaku untuk kondisi peak season," pungkasnya.

Sebelumnya, Badan Pusat Statistik mencatat inflasi pada Maret 2019 sebesar 0,11% (month to month). Salah satu penyebab inflasi Maret adalah tingginya harga tiket pesawat yang terjadi pada periode Februari hingga Maret.

Kepala BPS Suhariyanto mengatakan, sektor transportasi mencapai angka inflasi 0,10%. Secara keseluruhan sektor ini menyumbang inflasi 0,02%, dimana tarif pesawat menyumbang inflasi paling besar, yakni 0,03%.

Sementara itu, Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia, Hariyadi Sukamdhani mengatakan, kenaikan tarif pesawat diprediksi akan menurunkan tingkat okupansi hotel di Indonesia dengan penurunan rata-rata 7% hingga 30%. "Itu untuk seluruh wilayah di Indonesia range 7% sampai 30%. Penurunan ini mulai kelihatan sejak Januari 2019 dan masih terasa sampai sekarang," ujarnya.

Dia berharap pemerintah bisa meninjau kembali perhitungan tarif termasuk memberikan kebijakan baru di sektor penerbangan nasional. "Kalau begini terus, kita yang di PHRI bakalan berat. Dan kita belum tahu kondisi ini akan berjalan berapa lama," pungkasnya.
(ven)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak