alexametrics

Peneliti Ini Sebut Prabowo Tak Paham Manfaat Ekonomi Akuisisi Freeport

loading...
Peneliti Ini Sebut Prabowo Tak Paham Manfaat Ekonomi Akuisisi Freeport
Mulai tahun 2022, Indonesia melalui Inalum dinilai akan menikmati keuntungan lebih dari 50% produksi tambang Grasberg. Foto/Ilustrasi
A+ A-
JAKARTA - Peneliti Alpha Research Database dan penulis buku Freeport Ferdy Hasiman menilai Capres 02 Prabowo Subianto tidak paham soal economic interest 81,21% yang diperoleh Freeport McMoRan dari proses final kesepakatan dengan pemerintah Indonesia yang disampaikan saat sesi debat capres keempat, Sabtu (30/3) lalu.

Diketahui, beberapa hari setelah divestasi saham Freeport Indonesia, induk usahanya, Freeport McMoRan (FCX) melaporkan kepada pemegang saham di bursa New York Stock Exchange (NSE) bahwa dari kesepakatan dengan pemerintah Indonesia, FCX mendapat 81,28% economic interest dari proses itu.
"Perhitungan economic interest ini tentu adalah perhitungan ekonomi korporasi yang sangat kompleks dan detail," jelas melalui keterangan tertulis, Selasa (2/4/2019).
Ferdy mengatakan, ketika mengonfirmasi hal ini kepada Juru Bicara Freeport Riza Pratama, dikatakan bahwa hal itu adalah perhitungan Freeport McMoRan. "Freeport Indonesia tidak mengeluarkan perhitungan itu," ujarnya.

Menurut dia, Freeport McMoRan hanya melaporkan itu untuk meyakinkan investor strategisnya bahwa perusahaan masih menerima keuntungan secara korporasi dari pertambangan Grasberg. Ferdy mengatakan, itu bukan perhitungan terkait dividen atau penerimaan negara.



"Perhitungan economic interest itu hanya masuk dalam perhitungan Freeport McMoRan untuk dilaporkan kepada pemegang saham. Perhitungan itu tidak masuk dalam IUPK yang dibuat pemerintah," jelasnya.

Freeport McMoRan juga, lanjut dia, meminta pemerintah Indonesia menghormati Kontrak Karya Freeport dan Rio Tinto yang berlaku sampai 2021. Dengan itu, berlakunya economic interest 81,28% itu hanya tiga tahun saja.

"Sudah dikatakan dalam bagian terdahulu bahwa Rio Tinto menguasai 40% produksi tembaga dan emas Grasberg, sementara Freeport hanya menguasai 60% produksi sampai 2022," kata dia.

Yang perlu dicatat, sambung Ferdy, tambang open-pit hanyalah 7% dari total cadangan Freeport. Cadangan terbesar yakni 93% tambang Grasberg ada di tambang underground, mencakup wilayah Kucing Liar, Grasbreg Open-pit, DOZ Block Cave, Big Gosan, Grasberg Blok Cave dan DMLZ Block Cave.

"Sampai tahun 2017, cadangan terbukti dan terkira di Grasberg sebesar 38,8 miliar pound tembaga, 33,9 juta ons emas, dan 153,1 juta ons perak," paparnya.

Dengan begitu, tegas Ferdy, sudah sangat tepat, bila pemerintah dan Inalum membeli saham Freeport saat ini. "Mumpung produksinya masih turun, karena harga saham ikut turun. Inalum tidak menggunakan perhitungan aset dalam membeli saham Freeport. Jika memakai perhitungan aset, tentu sangat mahal," ujarnya. Terkait dengan itu, dia menilai Presiden Joko Widodo jeli melihat peluang ini.

Kalaupun economic interest dihitung berdasarkan dividen, dia menilai itu tidak menjadi soal karena produksi Grasberg pun pada 2019-2021 mengalami penurunan secara alamiah.

Menurut dia, mulai tahun 2022, Freeport akan menikmati produksi dari tambang underground yang diperkirakan mencapai 160.000-200.000 ton konsentrat tembaga. Jika harga metal di pasar global naik, maka tentu itu akan menguntungkan Freeport dan Inalum sebagai pemegang saham. "Mulai tahun 2022, Inalum justru menikmati keuntungan lebih dari 50% produksi Grasberg," kata dia.

Pendapatan Freeport dari tambang Grasberg ke depan diperkirakan bisa berada di atas USD3 miliar per tahun. Dengan keuntungan yang begitu besar, lanjut dia, Inalum akan mengembalikan dana pinjaman dari penerbitan obligasi global dalam rentang waktu 3-5 tahun dan menikmati keuntungan dari operasi tambang Grasberg di Papua.

"Jadi, kita perlu mengapresiasi langkah berani pemerintahan Jokowi yang telah menyelesaikan divestasi saham Freeport dengan mekanisme korporasi," kata dia.
(fjo)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak