alexametrics

Begini Cara Kementan Katrol Daya Saing Cabai Nasional

loading...
Begini Cara Kementan Katrol Daya Saing Cabai Nasional
Budidaya tanaman cabai ternyata cukup rumit, butuh kesabaran, keuletan dan seni efisiensi. Foto/Ilustrasi
A+ A-
JAKARTA - Cabai jenis rawit merah maupun cabai besar yang biasa digunakan sebagai bumbu masakan ternyata dihasilkan melalui usaha budidaya yang tidak sederhana. Direktur Sayuran dan Tanaman Obat,M Ismail Wahab menyebutkan, budidaya cabai tak hanya persoalan tanam, namun juga melibatkan seni tersendiri.

"Merawat tanaman cabai butuh kesabaran, keuletan dan seni efisiensi. Kalau hanya asal tanam tanpa upaya efisiensi, jatuhnya pasti merugi," ujarnya saat dihubungi, Minggu (7/4/2019).

Dia menambahkan, jangan berharap cabai memberi keuntungan optimal jika penanamannya tidak menerapkan seni budidaya ramah lingkungan. Menurut Ismail, saat ini masih banyak petani yang mengandalkan budidaya konvensional menggunakan pestisida maupun pupuk kimia.



"Dampaknya, hama penyakit bukannya makin hilang justru makin kebal dan jenisnya beragam. Belum lagi dampak residu pestisida yang harus ditanggung konsumen. Ini perlu kita ingatkan terus menerus kepada petani dan petugas lapang," ujarnya.

Terkait harga cabai yang lambat beranjak naik, menurut Ismail, bukan harga cabai yang rendah, tapi biaya usaha tani yang memang masih mahal. "Bayangkan, puluhan juta hanya dipakai buat beli pestisida yang belum tentu itu diperlukan dan pupuk yang berlebihan tanpa ada analisa kebutuhan hara. Bagaimana kita bersaing dengan produk luar negeri?” uajrnya.

Senada, Kepala Bidang Hortikultura Provinsi Jawa Barat, Uung Gumilar menekankan pentingnya efisiensi biaya produksi. Uung mendorong para petani tidak hanya berpikir untuk memproduksi dan menjual cabai ke pasar lokal saja. Menurut dia, Indonesia harus sudah mulai berorientasi ekspor dan hal itu kuncinya adalah pada daya saing produk. Pihaknya juga menyoroti masih banyak petani melakukan usaha budidaya tanpa memperhatikan konservasi lingkungan."Kalau produk cabai kita saja sudah tidak sehat dan tidak efisien budidayanya, bagaimana produk kita laku di pasar modern, apalagi di luar negeri," kata Uung.Juhara, champion cabai asal Bandung mengaku optimistis para petani secara bertahap akan mengikuti anjuran Kementan dalam budidaya cabai yang efisien dan sehat. "Nyatanya anggota kelompok tani kami sudah banyak yang mulai mengarah ke organik. Tidak mudah memang mengubah mindset petani. Kami memulai dari lingkup kecil. Tapi kalau tidak terus kita gencar suarakan, lama kelamaan cabai lokal kita bisa bisa hilang dilindas produk negara lain," ungkap Juhara
(fjo)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Facebook
  • Disqus
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak