alexametrics

Direktur PT Pertamina EP Nanang Abdul Manaf

Pertegas Misi Perusahaan Penuhi Target

loading...
Pertegas Misi Perusahaan Penuhi Target
Direktur PT Pertamina EP Nanang Abdul Manaf. (SINDOnews. Sutikno)
A+ A-
Sebagai perusahaan nasional yang bergerak di sektor hulu minyak dan gas bumi, PT Pertamina EP memiliki tugas dan tanggung jawab besar mendukung ketersediaan cadangan minyak dan gas bumi di dalam negeri.

Di tengah besarnya kebutuhan pada sektor ini, bagaimana anak usaha PT Pertamina (Persero) ini menyiasati cadangan produksi yang ada saat ini beserta pengembangan eksplorasinya? Berikut petikan wawancara Presiden Direktur PT Pertamina EP Nanang Abdul Manaf di Jakarta beberapa waktu lalu.

Secara umum, bagaimana kondisi industri perminyakan di dalam negeri saat ini?
Saya menyebutnya tahun ini sebagai tahun yang challenging. Kalau bicara industri hulu migas, kita bicara pertama itu cadangan. Cadangan itu seperti tabungan di rekening kita. Kita punya tabungan berapa sehingga kita bisa mengatur, kita mau memproduksi berapa setiap hari. Ibaratnya memproduksi itu seperti kita ngambil duit di ATM. Kasih kartu ATM keluar berapa, tarik berapa, nanti sisanya kita lihat berapa. Kalau cadangan/tabungan kita besar, kita mau memproduksi berapa pun bisa, kita kuat karena cadangannya besar. Tetapi, kalau cadangan kita juga terbatas, kita harus atur produksinya. Jangan sampai kita habiskan dalam waktu cepat, terus ke depan, bagaimana anak cucu kita. Tentu akan semakin ketergantungan. Karena apa, demand terus naik. Dari tahun ke tahun itu naik terus. Sementara supply,itu kebalikannya.



Melihat demand yang terus meningkat, bagaimana kondisi sekarang?
Melihat kondisi semakin besarnya demand,maka sejak 2004 itu kita sudah masuk net importer country.Makanya, ada kebijakan pemerintah keluar dari OPEC. Sebab kita tidak lagi mengekspor minyak. Karena antara supply dan demand,kita sudah lebih banyak demand - nya. Nah, beberapa tahun terakhir ini produksi kita di kisaran katakanlah 800.000 barel per hari (bph). Tahun lalu, kurang atau sekitar 780.000- an bph.

Sementara demand kita atau konsumsi kita di kisaran 1,5-1,6 juta. Jadi, hampir 50% atau mau tak mau otomatis kita impor dalam bentuk crude maupun dalam bentuk produk. Jadi memang challenging.Nah, sementara cadangan kita atau penemuan dari kegiatan eksplorasi maupun kegiatan development itu hanya menutupi 65%. Itu yang disebut, reserve to replacement ratio atau perbandingan antara kemampuan kita mereplace cadangan yang diproduksikan itu hanya 65%. Gampangannya, kalau sekarang produksi 100, saya nabungnya cuma 65. Tahun depan saya tarik lagi 100, nabungnya cuma 65. Lama-lama tabungan saya, turun, kan. Kecuali kalau saya, tarik 100 nabung 100.

Jadi yang ideal seperti apa?
Yang ideal memang adalah menabung kita harus lebih dari 100. Menabungnya 110, tariknya 100. Dapat 10 sisa. Tahun depan begitu juga, mungkin menabungnya 120 tariknya 100, ada sisa 20 lagi. Sehingga kita tumbuh, nah itu yang disebut dengan reserve to replacement ratio di atas 100%. Nah, karena kondisi ini, maka ketergantungan kita terhadap energi dari luar, itu akan terganggu.

Sekarang harga minyak dunia lagi naik,posisi Pertamina EP bagaimana?
Ketika kondisi harga minyak naik, di satu sisi perusahaan di upstream (hulu), kita merasa untung, karena produk kita adalah crude dan gas. Tapi, buat downstream (hilir), harga crude ini boleh dibilang menjadi 90% elemen dari keseluruhan elemen harga BBM, 90%- nya ditentukan harga crude.Sisanya baru processing,distribusi, dan sebagainya. Jadi sangat berdampak terhadap fluktuasi harga minyak. Jadi, dari satu sisi hulunya menyenangkan, tapi di sisi yang hilir kita suffer.Apalagi saat ini seperti saya sampaikan tadi, kita sudah masuk dalam net importer. Jadi semakin banyak mengimpor, harga naik, otomatis ya pasti akan semakin besar beban pemerintah menyediakan katakanlah anggarannya. Sementara BBM ini, kan subsidi. Otomatis beban subsidi pemerintah akan meningkat.

Lalu solusinya bagaimana jika demand terus bertambah?
Makanya, kebijakan pemerintah diversifikasi ke renewable,geotermal, angin, itu adalah kebijakan sangat tepat karena akan mengurangi kebutuhan atau ketergantungan kita terhadap BBM. Nah,BBM sendiri yang paling utamanya adalah crude.Kalau gas untuk beberapa tahun ini ke depan masih aman. Kalau crude sudah jelas kita defisit.

Peran Pertamina EP bagaimana?
Dari crude, porsi Pertamina EP sekitar 10%. Bukan Pertamina Group ya,tapi Pertamina EP. Kalau Pertamina Group, kan ada PHE dan lain-lain. Kalau PEP saja kita sebagai anak perusahaan, kontribusinya dari sisi minyak 10%. Dari sisi gas, kira-kira 1/6, sekitar 15-16% kontribusi kita. Tapi, kalau secara agregat, gas itu diekuivalenkan kirakira seperenamlah. Jadi dalam satu tahun ini 250- 255 MMBOE. Kita sudah nomor satu dari sisi produksi minyak dan gas. Kalau minyaknya saja kita nomor tiga. Pertama ada Exxon Mobil, kedua Chevron, baru Pertamina EP. Kalau dari gas, kita nomor tiga, ada BP dan Conoco di atas kita.

Dalam empat tahun ini apa program yang telah dilakukan?
Kita sejak 2012 ke 2017 trennya turun. Sebelum 2012, produksi kita itu capai 127.000 BOPD minyaknya, kemudian turun. Tapi tahun 2018, kita naik 7%. Yang biasanya kita turun 15- 20% per tahun, tahun 2018 kita naik 7%. Kalau tahun 2017 rata-rata 77.000, pada 2018 sekitar hampir 79.600 atau hampir 80.000. Artinya apa, kita menganggap bahwa mudah-mudahan itu menjadi titik balik kita untuk lebih meningkat lagi dan kita bisa bertahan di angka sekarang, karena kita bisa menahan penurunan, tapi kita juga bisa meningkatkan produksi.

Strategi meningkatkan produksi itu bagaimana?
Caranya ada dua strategi. Pertama,kita mengoptimalisasikan eksisting. Lapanganlapangan yang lama itu kita tahan penurunannya. Caranya dengan meningkatkan keandalan sumur kita. Kita tahu sumur-sumur kita itu sudah dibangun puluhan tahun lalu. Kadang-kadang ada kebocoran pipa, ada masalah di power,termasuk juga karena pencurian, kemudian mungkin ada masalah dengan pompa dan separator peralatan kita. Tahun 2018 ini kita jaga reliabilitas kita sampai bisa katakanlah 90%. Tetap kita tak bisa hindari yang namanya unplanned shutdown,tapi kita minimalkan.

Kalau temuan-temuan baru itu potensinya seberapa besar?
Ada temuan baru, tapi skalanya tidak besar namun masih bisa membuat perusahaan ini tetap survive.Kita juga sama di kisaran 70-80% replacement ratio kita. Tapi, untuk gas kita lebih baik. Memang tahun ini gas agak sedikit turun produksinya karena sumber utamanya di Sumatera Selatan turun sampai 40 MM per hari. Tetapi, kita lagi menyiapkan pengembangan baru. Kalau digabungkan bisa menutupi gap di Lapangan Musi ini. Sedangkan dari pertumbuhan eksplorasi juga belum menggembirakan, sebab kita juga masih mengandalkan area pengembangan eksisting. Di mana area kita belum berkembang. Jadi harus kreatif untuk eksplorasi cari peluang baru.

Melihat target yang dibebankan sepertinya cukup besar, bagaimana membangun komunikasi bersikap sebagai pimpinan?
Pertama kita harus menentukan visinya yang jelas. Clear.Misalnya, ketika saya diangkat jadi pimpinan Pertamina EP, saya bilang ayo, kita kembalikan produksi minyak PEP 100.000 barel. Jadi, bagaimanapun caranya, kita berusaha itulah untuk capai target ultimate kita. Walaupun kita tahu produksi kita lagi turun, tapi kejar lagi. Dua tahun lalu, tiga tahun lalu, itu bukan sesuatu yang mustahil. Caranya bagaimana, ya kita jabarkan dengan strategi. Eksisting harus kuat, reliabilitas harus bagus, optimalisasi sumur dihidupkan dan sebagainya. Jadi, visi perusahaan yang saya pertegas. (Ichsan Amin/Yanto Kusdiantono)
(nfl)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak