alexametrics

Ekonom: Siapapun Presidennya, Laju Impor Tak Akan Berhenti

loading...
Ekonom: Siapapun Presidennya, Laju Impor Tak Akan Berhenti
Ekonom senior dari Institute for Development of Economics and Finance (Indef) mengatakan, derasnya laju impor masih akan terus terjadi siapapun presidennya. Foto/Ilustrasi
A+ A-
JAKARTA - Ekonom senior dari Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Nawir Messi mengatakan, derasnya laju impor masih akan terus terjadi siapapun yang menjadi presiden. Menurutnya kebiasaan impor ini akan sulit dihentikan oleh siapapun nantinya yang menjadi presiden, lantaran industri dalam negeri belum mampu memenuhi kebutuhan seluruh masyarakat Indonesia.

Bahkan terang dia, hingga saat ini tingkat ketergantungan industri terhadap produk impor masih cukup tinggi. Tercatat impor bahan baku menyumbang 70% dari keseluruhan impor Indonesia.

"Fokus yang kami harapkan adalah stagnasi perdagangan pada impor untuk barang konsumsi. Ini menunjukan bahwa industri kita masih tergantung pada bahan baku impor karena lemahnya industri hulu domestik. Siapapun presidennya, impor pasti dan akan tetap jalan," ujar Nawir di Jakarta, Kamis (11/4/2019).



Sambung dia menerangkan, untuk menghentikan impor merupakan sesuatu hal yang masih sulit. Apalagi saat ini output pertanian dan peternakan terus menurun, sementara jumlah penduduk terus meningkat.

"Impor menjadi suatu yang pasti, menghentikannya adalah sesuatu yang utopis (khayalan). Sekarang output di sektor pertanian dan peternakan rendah, sementara pertumbuhan penduduk, terutama kelas menengah, terus meningkat. Sektor industri juga masih mengandalkan bahan baku impor," jelasnya.

Lebih lanjut Nawir mengungkapkan neraca perdagangan nonmigas sebenarnya masih mencatatkan surplus USD3,83 miliar, namun melambat dibandingkan tahun 2017 yang mencatatkan surplus USD 20,4 miliar. "Jika tidak ada penanganan serius dan perencanaan industri ke depan, maka neraca perdagangan nonmigas terancam defisit pada satu hingga dua tahun ke depan, mengulangi defisit perdagangan non-migas 1996," terang dia mengingatkan.
(akr)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak