alexametrics

SouthCity Tawarkan Apartemen Berkonsep Co-Living di Selatan Jakarta

loading...
SouthCity Tawarkan Apartemen Berkonsep Co-Living di Selatan Jakarta
SouthCity menawarkan Apartemen The Parc yang berkonsep co-living di Selatan Jakarta. Foto/Ilustrasi/Ist
A+ A-
JAKARTA - Konsep co-living atau berbagi ruang hidup saat ini semakin populer di kalangan milenial. Ada dua hal yang membuat konsep ini menjadi populer yakni keterjangkauan dan komunitas.

"Co-living pada dasarnya adalah pandangan baru terhadap ide lama, yang dibayangkan oleh generasi milenial yang menghargai hal-hal seperti keterbukaan dan kolaborasi, jejaring sosial dan ekonomi berbagi," kata Peony Tang, Direktur PT Setiawan Dwi Tunggal (SouthCity) di Jakarta, Jumat (12/4/2019).

Menurut dia, banyak pengembang di negara maju seperti China, Hong Kong dan Singapura memanfaatkan tren ini dengan membangun ruang co-living dengan kamar tidur dan kamar mandi pribadi kecil, tetapi ruang bersama yang besar dan fasilitas umum. Konsep ini ternyata digemari dan menjadi tren hunian baru.

Populasi anak muda yang besar serta proses urbanisasi di Indonesia yang sangat cepat mendorong terjadinya pertumbuhan permintaan untuk model hunian seperti co-living ini. Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah penduduk usia kerja atau di atas 15 tahun per Agustus 2018 sebanyak 194,7 juta jiwa.

Dari angka tersebut sebanyak 124 juta jiwa sudah bekerja atau mampu menyewa dan membeli hunian, sementara sejumlah 16,5 juta masih sekolah. Jumlah ini jelas lebih banyak dari negara mana pun di Asia Tenggara. Karena itu, tak mengherankan jika proyek-proyek transportasi massal yang akan datang juga menjanjikan peluang bagi para pemilik properti co-living.

Salah satunya adalah Apartemen The Parc, SouthCity. Hunian co-living pertama yang dibangun oleh pengembang PT Setiawan Dwi Tunggal di Selatan Jakarta ini memenuhi kriteria sebagai hunian co-living yang efisien dan dibutuhkan oleh kaum milenial yang mengutamakan kenyamanan dan efisiensi.

"Konsep co-living yang kami tawarkan berbeda dengan hunian lainnya. Kami memberi kesempatan bagi para penghuni untuk membentuk komunitas dan berkolaborasi, namun tetap mengutamakan kenyamanan," ujar Peony.

Menurut Peony, The Parc memberikan fasilitas bagi kaum milenial untuk berinteraksi dan berkolaborasi dengan penghuni lainnya lewat fasilitas. Salah satu fasilitas yang ditawarkan adalah co-working space dengan free wi-fi. Dengan demikian, kebutuhan kaum milenial untuk berkolaborasi serta berinteraksi yang tidak hanya dalam bekerja tetapi juga berteman dapat terwujud.

Selain fasilitas, lanjut dia, The Parc juga menghadirkan akses transportasi yang sangat menunjang mobilitas penghuninya. Beberapa akses menuju kawasannya, antara lain melalui stasiun MRT Lebak Bulus dan Fatmawati, MRT Pondok Cabe-Tanah Abang, Trans Jakarta dari Pondok Cabe-Tanah Abang, jalan Tol Depok-Antasari melalui pintu tol Andara dan Brigif. Kemudian jalan tol Cinere-Jagorawi melalui pintu tol Cinere, dan jalan tol Cinere-Serpong melalui pintu tol RE Martadinata.

Associate Director SouthCity, Stevie Faverius Jaya mengatakan, dengan populasi milenials yang mencapai 60% demografi Indonesia, menjadi peluang bagi pihaknya untuk memasarkan The Parc. Apalagi, The Parc juga menyediakan keringanan pembayaran bagi kaum milenial.

"Kami memiliki program 'Nabung DP' dimana milenial hanya perlu mencicil down payment 20% sebesar sekitar Rp3,3 juta hingga 24 kali. Setelah itu dilanjutkan dengan mencicil KPA sebesar Rp3 juta per bulan, yang artinya dalam satu hari para calon konsumen hanya perlu mengalokasikan Rp99.000," katanya.

Sejak mulai dipasarkan Juni 2018 lalu, The Parc sudah terjual sekitar 30-40% dari total 392 unit di tower pertama. "Kami targetkan penjualan hingga 70% di tahun ini dan selanjutnya kami akan memasarkan tower kedua," pungkas Stevie.
(fjo)
preload video
BERITA TERKAIT
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak