alexametrics

Biaya Kampanye Hitam Sawit UE Lebih Besar dari Iklan Coca-cola

loading...
Biaya Kampanye Hitam Sawit UE Lebih Besar dari Iklan Coca-cola
Menko Bidang Perekonomian Darmin Nasution menerangkan, kampanye hitam soal produk minyak kelapa sawit (crude palm oil/CPO) di Uni Eropa dilakukan secara masif. Foto/Ilustrasi
A+ A-
JAKARTA - Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian Darmin Nasution menerangkan, kampanye hitam soal produk minyak kelapa sawit (crude palm oil/CPO) di Uni Eropa dilakukan secara masif. Usai melakukan lawatan ke Brussels, Belgia untuk menindaklanjuti aturan diskriminasi yang dibuat Uni Eropa, Ia mengungkapkan biaya kampanye hitam kelapa sawit lima kali lipat lebih besar dari biaya promosi atau iklan Coca-Cola.

"Seperti ada perusahaan Italia, penghasil cokelat, dia bilang kita itu biaya promosi kita untuk kampanye hitam itu biayanya produksi lima kali lebih besar dari biaya promosi coca-cola. Kampanye hitam telah berjalan lama," ujar Menko Darmin di Kantor Kementerian Koordinator (Kemenko) bidang Perekonomian, Jakarta, Jumat (12/4/2019)

Menurutnua adanya iklan kampanye hitam tersebut membuat masyarakat negara itu memiliki persepsi negatif sendiri terhadap kelapa sawit. Artinya, kampanye terhadap sawit ini sudah menyebar hingga masyarakat bukan di kalangan parlemen Eropa saja.



Terang dia ada gap atau rentang persepsi yang besar terhadap produk kelapa sawit maupun kebijakan pengembangannya. "Itu menunjukkan bahwa persepsi mengenai kelapa sawit sudah terbentuk di sana bukan hanya di parlemen tapi juga konsumen dan dimasyarakatnya," jelasnya.

Melihat kondisi tersebut, Pemerintah ketika berkunjung ke Brussel beberapa waktu lalu pun menemui sejumlah pihak. Tujuannya adalah untuk menjelaskan pentingnya kelapa sawit bagi Indonesia dan keberlanjutannya ke depan bagi dunia.

Selain itu, delegasi Indonesia juga menemui Dewan Eropa Jaroslaw Pietras, DG of Transport, Energy, Environment, Education, General Secretariat of European Council. Serta Perusahaan bidang biodiesel dan perusahaan multinasional lain yang memiliki hubungan bisnis dengan Indonesia seperti Ferrero, Michelin dan Airbus.

"Kita menemui Wakil Presiden Parlemen Eropa Heidi Hautala dan beberapa anggota parlemen. Lalu komisi Eropa Miguel Arias Canete, Commissioner for Climate Action and Energy dan Karmenu Vella, Commissioner Environment, Maritime Affairs & Fisheries," terang Darmin.
(akr)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak