alexametrics

BUMN Tidak Lagi Lazy Company, Sudah Memberi Kontribusi Ekonomi

loading...
BUMN Tidak Lagi Lazy Company, Sudah Memberi Kontribusi Ekonomi
Gedung Kementerian BUMN. Foto/SINDOnews
A+ A-
JAKARTA - Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dinilai sudah mampu memberikan kontribusi ekonomi. Ada banyak fakta BUMN mulai bergerak, tidak lagi menjadi lazy company, dan mulai berkontribusi besar pada perekonomian.

Pandangan demikian disampaikan oleh Guru Besar bidang Ilmu Manajemen dari Universitas Indonesia, Rhenald Kasali menyikapi tudingan bahwa BUMN tidak memberikan kontribusi dan salah kelola.

BUMN turut berjuang membuka daerah-daerah terpencil, misalnya Angkasa Pura II yang turut mengelola Bandara Silangit, kemudian Banyuwangi yang kini telah diperbesar. Pekerjaan yang kira-kira swasta tidak berani masuk dan pemerintah daerah juga ingin melepas, kini ditangani oleh BUMN.



"Saat ini, BUMN tengah mengembangkan bandara di Purbalingga, bayangkan bertahun-tahun ekonomi sudah berkembang di sana, namun masih kurang perhatian untuk pembangunan bandara di wilayah itu. Jalan tol dibangun juga karena pihak swasta tidak ada yang berminat untuk itu, maka di situ lah BUMN masuk," jelasnya, Selasa (16/4/2019).

Ia menjelaskan, BUMN juga turun mengaktifkan langkah-langkah mengharumkan nama bangsa, terutama untuk menjalankan amanah Pasal 33 konstitusi, yaitu mengambil alih dari asing. Freeport sudah masuk, Blok Mahakam, Blok Rokan juga sudah masuk. Menurut Rhenald, BUMN telah menjalankan peran ini dengan baik.

Terkait tudingan-tudingan terhadap holding BUMN, menurutnya malah holding BUMN itu dapat membantu kelengkapan dan membuat lebih besar, dan memberikan kemampuan untuk melakukan financial laveraging. Laveraging itu berarti menjadi lebih besar, karena kapasitasnya menjadi lebih besar.

"Saya beri contoh dalam debat kemarin, disebutkan oleh satu narasumber, sampai kapanpun Garuda Indonesia tidak akan pernah untung, karena load factor-nya harus mencapai setidaknya 120%. Jawabnya karena kita melihat Garuda itu untungnya atau bisnisnya penumpang, padahal bisnis terbersar maskapai itu ada di jasa kargo dan selama ini kargo yang menikmati bukan maskapai, bukan juga Angkasa Pura. Siapa yang menikmati? Yang menikmati adalah pihak asing di Indonesia. Mereka punya perusahaan penerbangan yang khusus mengangkat kargo, mereka mempunyai pelabuhan yang khusus spesialis mengenai kargo," papar Rhenald.

Ia mencontohkan, dengan holding seperti yang dilakukan Singapura. Bila Singapore Airlines masuk ke seluruh negara, tidak hanya Singapore Airlines yang akan masuk, tetapi juga bandaranya. Makanya bandara Singapura bisa mengelola bandara lain di dunia.

"Dengan holding, mereka bisa menjamin. Kalau saya mengelola bandara di negara anda, saya akan bawa kargo, saya akan bawa penumpang. Bisa seperti itu," ujarnya.

"Indonesia kenapa tidak bisa? Karena kita mainnya sendiri-sendiri, bandara sama maskapai saling injak-injakkan. Sekarang harus sinergi, sehingga dengan begitu menjadi kuat, besar, dan kita tidak ditertawakan lagi oleh negara tetangga. Maskapai kalau hanya mengandalkan penumpang sampai kapan pun tidak akan bisa untung," pungkas Rhenald.
(ven)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak