alexametrics

Luhut Optimistis RI Terhindar Jebakan Utang China di Jalur Sutra Modern

loading...
Luhut Optimistis RI Terhindar Jebakan Utang China di Jalur Sutra Modern
Menko Luhut menerangkan, Indonesia akan terhindar dari apa yang disebut sebagai jebakan utang China dalam Program Belt and Road atau Jalur Sutera modern. Foto/Ilustrasi
A+ A-
BEIJING - Menteri Koordinator (Menko) bidang Kemaritiman Luhut B. Pandjaitan menerangkan, Indonesia akan terhindar dari apa yang disebut sebagai jebakan utang China dalam Program Belt and Road atau Jalur Sutera modern. Diterangkan olehnya bahwa pemerintah tidak menyertakan dananya pada proyek-proyek yang masuk dalam program Jalur Sutra Modern.

“Ada yang memperingati debt trap untuk skemanya. Kita tidak melakukan perjanjian G to G (antar pemerintah) Skema B to B (antar badan usaha) itu sangat baik untuk mengurangi resiko jebakan ini,” ujar Menko Luhut lewat keterangan tertulis, Sabtu (27/4/2019).

Formatnya, menurut dia, tidak ada uang pemerintah yang disertakan dalam proyek-proyek tersebut. Prinsipnya harus sama-sama untung, Pemerintah hanya terlibat dalam studi kelayakannya, menyangkut lingkungan hidup, nilai tambah, transfer teknologi, B to B dan pemanfaatan tenaga kerja lokal. Di Indonesia bagian Timur Indonesia masih kekurangan tenaga kerja handal dalam bidang teknologi.

“Seperti yang kami lakukan di Morowali, sekarang kami sudah punya politeknik yang mendidik calon-calon tenaga kerja dalam bidang teknik, setelah 3-4 tahun nanti mereka akan menggantikan tenaga-tenaga kerja asing yang ada di sana. Sehingga anak-anak Indonesia, pekerja-pekerja Indonesia, akan ikut menikmati juga. Inilah yang disebut sama-sama untung,” jelasnya.

Sambung dia menekankan, kerjasama yang ada saat ini tidak ada yang berbentuk kerjasama antar pemerintah, melainkan kerjasama antar badan usaha, langsung pada proyek. Jadi peran pemerintah disini hanya memfasilitasi. Menurutnya proyek-proyek tersebut murni dilakukan secara Business-to-Business (B2B), pemerintah Indonesia dan China disebut hanya untuk memfasilitasi bertemunya masing-masing badan usaha dari kedua negara.

Sementara terkait dengan pembangunan infrastruktur yang secara masif dilakukan pemerintah dalam beberapa tahun terakhir, terang Menko Luhut bahwa dampaknya tidak bisa langsung dirasakan.

“Infrastruktur itu sebenarnya memperkaya, karena akan menurunkan cost tetapi tidak bisa terlihat hasilnya dalam 1-2 tahun, mungkin baru terasa hasilnya dalam 4-5 tahun. Sekarang China telah menikmati pembangunan Infrastuktur nya. Kami, Indonesia baru bisa menikmatinya dalam sekitar lima tahun ke depan,” jelasnya.
(akr)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak