alexametrics

Masih Mahal, Tantangan Terbesar Populerkan Mobil Listrik

loading...
Masih Mahal, Tantangan Terbesar Populerkan Mobil Listrik
Menteri ESDM Ignasius Jonan saat menjajal mobil listrik EVHERO dan jenis Sportcar V8 VADI besutan Itenas Bandung. Foto/Dok. Kementerian ESDM
A+ A-
JAKARTA - Hadirnya mobil listrik di dalam negeri diyakini akan mendorong diversifikasi bahan bakar kendaraan dari bahan bakar minyak (BBM) ke listrik yang akan berdampak signifikan bagi peningkatan kualitas udara. Tak hanya itu, keberadaan mobil listrik juga akan menurunkan volume impor BBM yang membebani neraca dagang.

Karena nilai strategis inilah pemerintah terus mendorong penggunaan kendaraan listrik yang memiliki emisi rendah hingga dapat bersaing dengan kendaraan konvensional. Namun, pemerintah juga mengakui ada tantangan besar untuk mempopulerkan mobil listrik di dalam negeri.

Hal itu diungkapkan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan saat berkesempatan melakukan uji coba mobil listrik jenis crossover yang dinamai EVHERO dan jenis Sportcar V8 VADI besutan Institut Teknologi Nasional (Itenas) Bandung.



"Tantangan terbesar mobil listrik adalah masalah harga. Kalau harga mobil listriknya Rp1,5 miliar, siapa yang mau beli? Atau Rp750 juta, siapa yang bisa beli? Itu kan dua kali harga (mobil jenis) Kijang," ungkap Jonan seperti dikutip dalam laman resmi Kementerian ESDM, Minggu (28/4/2019).

Menurut Jonan, mobil listrik sangat diperlukan karena konsumsi BBM terus meningkat seiring pertumbuhan jumlah kendaraan bermotor juga penguatan infrastuktur jalan raya. "Di kemudian hari pasti konsumsi BBM-nya ini akan naik terus. Kita lihat bisa nggak produksi minyak nasional ini mengimbangi kenaikan kebutuhan atau konsumsi BBM, saya kira tidak mudah. Nah, salah satu jalan untuk mengurangi impor BBM atau impor minyak mentah itu adalah dengan mobil listrik," ujarnya.

Mobil listrik diyakini Jonan akan dapat mengurangi polusi dan impor BBM secara signifikan jika pemakaiannya sudah massif karena bahan bakarnya adalah listrik yang seluruh komponen untuk penyediaan listriknya tersedia di dalam negeri.

"Seluruh sumber energi primer untuk pembangkit listrik seluruhnya ada di dalam negeri seperti batubara, matahari, gas bumi, panas bumi, angin dan air. Semuanya ada dan dimiliki Indonesia, sehingga impor BBM-nya semakin hari tidak semakin tinggi. Tugas kita mengendalikan agar impor BBM-nya dalam kapasitas yang terukur, karena kalau tidak, semakin lama semakin tinggi," jelas Jonan.

Terkait dengan ketersediaan Stasiun Pengisian Listrik Umum (SPLU) untuk charging mobil listrik, Menteri Jonan memastikan akan tercukupi karena menurut Jonan itu saat ini cadangan listrik terpasang sudah lebih dari 30% dan menyediakan SPLU bagi PLN sama seperti menjual listrik biasa.

"Cadangan listrik terpasang saat ini sudah mencapai lebih dari 30% karena itu jika ditanyakan apakah listriknya tersedia untuk membangun fasilitasi SPLU, saya jawab cukup karena listriknya sama. Membangun fasilitas charging itu gampang, kalau mau PLN itu bisa bangun lebih dari sekarang yang sudah mencapai 1.600 SPLU di Jabodetabek dan kota besar. Termasuk membangun SPLU di luar Jawa, jika ada demand-nya kendaraan listrik kita siap," pungkasnya.
(fjo)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak