alexametrics

Indef Sebut Pertumbuhan Ekonomi Triwulan I Bukan Awal yang Baik

loading...
Indef Sebut Pertumbuhan Ekonomi Triwulan I Bukan Awal yang Baik
Ekonom INDEF dalam konferensi pers pandangan mengenai pencapaian target pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2019. Foto/Michelle
A+ A-
JAKARTA - Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) menyebut capaian pertumbuhan ekonomi Indonesia triwulan I/2019 yang sebesar 5,07% bukanlah awal yang baik. Capaian ini lebih rendah dari triwulan sebelumnya (triwulan IV/2018) yang tumbuh sebesar 5,18%, meskipun lebih tinggi dari triwulan I/2018 yang sebesar 5,06%.

"Dalam tujuh triwulan sebelumnya, secara berturut turut angka investasi PMTB selalu lebih tinggi daripada angka pertumbuhan ekonomi, namun di triwulan ini justru angkanya lebih rendah," ujar Wakil Direktur INDEF Eko Listiyanto di Jakarta, Rabu (8/5/2019).

Karena itu, kata dia, diperlukan akselerasi perekonomian di sisa tiga triwulan ke depan untuk merealisasikan ekspektasi target pertumbuhan ekonomi di APBN 2019 sebesar 5,3%.



Berdasarkan data dari BPS, beberapa sektor ekonomi sepanjang triwulan I/2019 yang mengalami penurunan kinerja pertumbuhan antara lain sektor pertanian, industri pengolahan, transportasi dan pergudangan serta konstruksi. Perlu dicatat bahwa sektor pertanian mengalami penurunan drastis, khususnya tanaman pangan.

"Instrumen HPP dimana harga GKG Rp4.650,00/kg dan GKP Rp4.070,00/kg tidak efektif mengendalikan harga di tingkat petani yang anjlok dibandingkan periode sebelumnya," ungkap Direktur Eksekutif INDEF Tauhid Ahmad.

Dalam sektor industri pengolahan terdapat kecenderungan beberapa subsektor mengalami tekanan, seperti batu bara dan pengilangan migas, industri kulit, industri kayu, industri karet, barang galian nonlogam, elektronik dan alat angkutan.

"Hal ini disebabkan oleh penurunan harga komoditas, penurunan daya saing, hingga penurunan daya beli untuk beberapa produk industri," imbuh Tauhid.

Sektor transportasi melemah, terutama akibat turunnya kinerja transportasi udara. Penyebabnya adalah peningkatan harga tiket pesawat secara drastis sejak Januari 2019.

Sektor konstruksi turun terutama karena belanja pemerintah untuk infrastruktur belum banyak dimulai, di samping itu permintaan terhadap sektor properti masih stagnan. Tauhid melanjutkan, produksi semen pada triwulan I/2019 sebesar 29,2 juta ton atau turun 2,53% (yoy) dan penjualan hanya sebesar 14,96 juta ton atau turun 4,81%(yoy).

Berkaca pada capaian itu, para analis INDEF menyarankan pemerintah merevisi kebijakan penetapan HPP dan HET, baik untuk gabah dan beras serta mendorong upaya peningkatan skala ekonomi tanaman pangan. Penurunan tarif batas atas tiket pesawat juga dinilai penting agar sesuai dengan kemampuan daya beli konsumen kelas bawah.
(fjo)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak