alexametrics

Wall Street Ditutup Bergelombang Karena Investor Ragu Hasil Kesepakatan Dagang

loading...
Wall Street Ditutup Bergelombang Karena Investor Ragu Hasil Kesepakatan Dagang
Wall Street ditutup fluktuatif karena investor ragu soal kesepakatan dagang AS dengan China. Foto/CNBC
A+ A-
NEW YORK - Pasar saham Amerika Serikat alias Wall Street ditutup dengan hasil beragam pada Rabu waktu setempat, karena investor ragu dengan hasil kesepakatan perdagangan AS dengan China.

Dalam media sosialnya, Presiden AS Donald Trump mengatakan Wakil Perdana Menteri China Liu He berencana datang ke Washington pada pekan ini untuk mencapai kesepakatan dagang. Hal ini merespon rencana Trump yang akan menaikkan tarif barang-barang China senilai USD200 miliar, dari semula 10% menjadi 25%.

Namun, investor ragu bahwa AS dan China dapat menyelesaikan perselisihan perjanjian dagang sebelum Jumat 10 Mei 2019, dimana AS mengancam menerapkan tarif baru bagi China.



Melansir dari CNBC, Kamis (9/5/2019), keraguan investor ini membuat Wall Street ditutup bergelombang alias fluktuatif. Indeks Dow Jones naik tipis 2,24 poin menjadi 25.967,33. Sementara itu, S&P 500 turun 0,16% menjadi 2.879,42 dan Nasdaq melemah 0,26% ke level 7.943,32.

"Saya katakan masalah (konflik dagang) ini sangat berbahaya. Kita masih menunggu putaran berikutnya. Saya pikir besok adalah saat penting," ujar Marc Chandler, kepala strategi pasar di Bannockburn Global Forex.

Sementara itu, Chief Investment Officer di Raymond James, Larry Adams, mengatakan ada banyak pengungkit yang bisa ditarik ke dalam perundingan. "Dan saya pikir pada akhirnya kita mendapatkan kesepakatan dagang karena ini sangat penting bagi kedua negara," tukasnya.

Sejauh ini, perundingan dagang AS dan China kerap naik turun. Belakangan pejabat perdagangan China mundur dari kesepakatan karena tidak mencapai kata sepakat soal aspek-aspek utama dari rancangan kesepakatan perdagangan.

Dan jika kesepakatan tidak tercapai, maka ditengarai China akan melakukan langkah balasan. Hal ini bisa berdampak pada pertumbuhan pendapatan perusahaan AS. Sehingga perusahaan harus menambal biaya kenaikan yang berpotensi menghambat pertumbuhan pendapatan mereka.

Dan bila perusahaan mengalihkannya dengan menaikkan harga barang, hal itu akan berdampak terhadap konsumen. Namun, beberapa pelaku pasar mengatakan dampak dari balasan tarif oleh China akan bersifat terbatas.
(ven)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak