alexametrics

Tingkatkan Pertanian, Kementan Kirim Petani Muda Belajar ke Jepang

loading...
Tingkatkan Pertanian, Kementan Kirim Petani Muda Belajar ke Jepang
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman (dua dari kiri) melakukan fact finding ke pertanian Jepang. Foto/Dok.Kementerian Pertanian
A+ A-
JAKARTA - Pertemuan Menteri Pertanian negara-negara anggota G20 (Agriculture Minister Meeting) di Niigata, Jepang, pada 10-12 Mei dimanfaatkan oleh Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman untuk menerapkan kesuksesan pembangunan pertanian Negeri Sakura di Indonesia.

Untuk itu, Amran bertandang ke lahan persawahan di 1475, Hirabara-Shi, Niigata-Ken untuk mendapatkan finding fact budidaya padi di Jepang. Selain kesuksesan pembangunan pertanian, petani di Jepang dikenal memiliki tingkat kesejahteraan memadai.

Untuk menimba best practices yang diterapkan petani Jepang, pemerintah Indonesia melalui Kementerian Pertanian mengirim para petani muda untuk magang di pertanian Jepang.



Dalam kunjungan ini, Mentan Amran berdialog dengan petani Jepang bernama Masato Shuto yang menjadi mentor bagi Ahmad Sri Maulana, pemuda tani asal Desa Kalibuntu, Cirebon, Jawa Barat yang mewakili P4S Ikamaja Garut.

Hasil bincang-bincang, petani Jepang mengungkapkan dukungan fasilitas dari negara yang sangat memadai dalam melakukan usaha taninya. Fasilitas yang menonjol diantaranya tersedianya sarana input produksi yang memadai dan diserapnya hasil produksi oleh Japan Agriculture, Koperasi Pertanian Jepang (JA).

"Kami sudah full mekanisasi, Daijin (Menteri). Mulai tanam sampai panen. Kami kesulitan tenaga kerja. Maka dari itu kami menggunakan petani muda asal Indonesia. Maulana tinggal bersama kami. Sudah saya anggap keluarga. Dia bersemangat kerja," jelas Shuto kepada Mentan Amran.

Japan Agriculture memberi bantuan pembiayaan tanpa bunga untuk pembelian pupuk dan pestisida setara Rp13 juta per hektar (Rp8 juta untuk pupuk dan Rp5 juta untuk pestisida). Untuk benih padi Japonica, petani menyediakan secara mandiri.

"Satu hektar berapa biayanya dan juga berapa kilo hasilnya? Dijual ke mana dan berapa harganya?" tanya Amran penasaran, dalam keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Minggu (12/5/2019).

"Produktivitas padi di sini rata-rata 4,3 ton gabah kering giling (GKG) per hektar dengan harga setara Rp30.000 per kilogram, yang semuanya ditampung oleh Japan Agriculture. Kami hanya simpan sedikit untuk kebutuhan konsumsi," jawab Shuto.

Dengan begitu rata-rata petani padi Jepang mendapatkan penghasilan setara Rp130 juta per musim tanam. Pertanaman padi di Jepang hanya 1 kali, selebihnya digunakan untuk usaha tani hortikultura.

Bercermin pada petani Jepang, petani padi Indonesia semustinya bisa sesejahtera petani Jepang mengingat produktivitas petani padi Indonesia jauh lebih tinggi dibandingkan petani Jepang. Indonesia produksi 5,2 ton GKG per hektar dibanding Jepang sebanyak 4,3 ton GKG per hektar.

Faktor utama penentu tingginya pendapatan petani padi Jepang adalah harga gabahnya Rp30.000 GKG per kg dibandingkan di Indonesia sebesar Rp4.600 GKG per kg. Semoga finding facts yang didapat dari petani Jepang ini akan memperbaiki kesejahteraan petani Indonesia hari-hari mendatang.
(ven)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak