alexametrics

Pasar Properti Jelang Lebaran Tunjukan Tren Positif

loading...
Pasar Properti Jelang Lebaran Tunjukan Tren Positif
Ilustrasi pemasaran properti. Foto/SINDOnews
A+ A-
JAKARTA - Pergerakan pasar properti menjelang dan setelah Lebaran diperkirakan melaju secara positif meskipun cenderung landai. Pasar properti akan mengalami sedikit penyesuaian terkait bulan Ramadhan, dimana hal ini dipengaruhi oleh lonjakan harga barang konumsi yang terjadi di bulan Ramadhan.

Rumah.com Property Index menunjukkan tren harga pasar properti mengalami penyesuaian pada periode Ramadhan dalam tiga tahun terakhir. Pada periode Ramadhan 2016, mulai awal Juni 2016 (akhir Q2) sampai awal Juli 2016 (awal Q3), tren pasar properti mengalami penyesuaian pada kuartal ketiga.

Selanjutnya, pada Ramadhan 2017 dari akhir Mei 2017 sampai akhir Juni 2017 (Q2), penyesuaian harga terjadi pada kuartal kedua. Sedangkan pada periode Ramadhan 2018, mulai pertengahan Mei sampai dengan pertengahan Juni 2018 (Q2), penyesuaian juga terjadi pada kuartal kedua.



Head of Marketing Rumah.com, Ike Hamdan, menjelaskan sejak 2016, Ramadhan dan Lebaran berada pada Q2 atau sedikit awal Q3. Berdasarkan data Rumah.com Property Index terlihat pergerakan di Q2 setiap tahun mengalami penyesuaian baik penurunan maupun kenaikan dalam kisaran 1%.

"Untuk Ramadhan 2019, yang dimulai awal Mei 2019 sampai dengan awal Juni 2019 (Q2), diperkirakan juga akan terjadi tren yang sama. Penyesuaian ini karena perhatian pasar teralihkan pada konsumsi jangka pendek seputar hari raya. Namun demikian, tren jangka panjang tetap positif, baik dari sisi harga pasar mau pun ketersediaan rumah," jelasnya di Jakarta, Selasa (14/5/2019).

Data Rumah.com Property Index ini memiliki akurasi data yang cukup tinggi untuk mengetahui dinamika yang terjadi di pasar properti di Indonesia, karena merupakan hasil analisis lebih dari 400.000 listing properti dijual dan disewa dari seluruh Indonesia, dengan lebih dari 17 juta halaman yang dikunjungi setiap bulan dan diakses oleh lebih dari 5,5 juta pencari properti setiap bulannya.

Selama tiga tahun terakhir dan juga tahun ini, Ramadan dan Lebaran berlangsung pada kuartal kedua dan awal kuartal ketiga. Pada periode tersebut, terlihat tren penyesuaian harga yang cenderung seragam.

Rumah.com Property Index menunjukkan harga properti pada kuartal ketiga 2016 mengalami penurunan 0,4% dari kuartal sebelumnya. Sementara pada 2017, indeks menunjukkan harga properti pada kuartal kedua mengalami kenaikan 1,07%. Sedangkan pada 2018, harga properti mengalami kenaikan di kuartal kedua 2018 sebesar 1,14%.

Secara historikal, setiap bulan Ramadhan dari tahun ke tahun, penjualan properti relatif cenderung turun dibandingkan bulan-bulan sebelumnya. Pola ini terbentuk dari kebiasaan para calon pembeli yang akan menunda melakukan transaksi hingga satu bulan setelah Lebaran, dan polanya akan naik lagi hingga mendekati Tahun Baru.

Sementara dari sisi suplai, Rumah.com Property Index menunjukkan tren penurunan pada periode Ramadhan dan Lebaran di tahun 2017 dan 2018. Pada 2017, indeks menunjukkan suplai properti pada kuartal kedua mengalami penurunan 2,08%. Sedangkan pada 2018, suplai properti mengalami penurunan di kuartal kedua 2018 sebesar 2,11%.

Menurut Ike, penurunan suplai properti ketika Ramadhan dan Lebaran karena penjual cenderung menghabiskan persediaan suplai yang telah ada. Diiringi dengan penyerapan pasar yang tidak terlalu agresif. Maka hal ini menjadi lebih masuk akal daripada memaksakan suplai pada saat sebagian besar fokus masyarakat diarahkan pada spending konsumsi jangka pendek.

Ike menambahkan, pasar properti menengah bawah akan terpengaruh inflasi yang terjadi sepanjang periode Ramadhan. Fenomena dan tren meningkatnya inflasi di bulan Ramadhan bukanlah hal baru karena telah terjadi dari tahun ke tahun. Periode Ramadhan akan menaikkan ekspektasi inflasi secara tradisional karena tingginya permintaan bahan kebutuhan pokok dari masyarakat, karena adanya pola konsumsi yang berbeda di periode ini hingga satu minggu setelah Lebaran.

"Namun, hal ini tidak terlalu berdampak pada kelas menengah atas. Pasar inilah yang bisa disasar pengembang dengan strategi berbeda. Taktik pengendalian inflasi yang bisa dilakukan pemerintah adalah pada harga makanan, bila mampu dikendalikan, inflasi bisa dijaga di angka yang relatif stabil. Keberadaan pasar nontradisional juga secara alamiah dapat mengendalikan harga," jelas Ike.
(ven)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak