alexametrics

Menahan Suku Bunga Langkah Tepat Pertahankan Stabilitas Ekonomi

loading...
Menahan Suku Bunga Langkah Tepat Pertahankan Stabilitas Ekonomi
Kepala Ekonom Bank Negara Indonesia (BNI) Ryan Kiryanto. Foto/Istimewa
A+ A-
JAKARTA - Bank Indonesia (BI) dalam Rapat Dewan Gubernur memutuskan mempertahankan suku bunga acuan alias BI 7-day Reverse Repo sebesar 6%, suku bunga deposit facility di angka 5,25%, dan lending facility di 6,75%.

Dengan mempertahankan BI Rate tetap 6%, diharapkan mampu mempertahankan stabilitas ekonomi, mendorong permintaan domestik, mendorong peningkatan ekspor, menggerakkan aktivitas pariwisata serta merangsang aliran masuk modal asing (capital inflows).

"BI tetap meyakini pemulihan ekonomi global ternyata lebih rendah dari prakiraan semula lantaran meningkatnya ketidakpastian di pasar keuangan," ujar Kepala Ekonom BNI, Ryan Kiryanto di Jakarta, Kamis (16/5/2019).



Pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat diprakirakan menurun dipicu stimulus fiskal yang terbatas meskipun pada kuartal I 2019 mampu tumbuh secara mengejutkan di level 3,2%. Penurunan karena pendapatan dan keyakinan pelaku dunia usaha yang belum kuat serta terkuaknya permasalahan struktur pasar tenaga kerja.

Sedangkan di kawasan Eropa, pemulihan ekonomi juga lebih lambat karena efek Brexit yang stagnan dan melemahnya ekspor. Secara khusus perekonomian China yang juga tumbuh belum kuat masih menjadi ganjalan.

"Masalah sengketa dagang AS melawan China turut serta mengerek ke bawah pertumbuhan ekonomi kedua negara. Di saat yang sama volume dan harga komoditas di pasar global juga belum kembali pulih," ungkap Ryan.

Pada akhirnya, perlambatan pertumbuhan ekonomi di AS, Uni Eropa dan China serta anjloknya volume dan harga komoditas berpengaruh pada pertumbuhan ekonomi dunia yang juga melambat.

Ryan mengungkapkan, ditahannya BI Rate di level 6% juga memberikan sentimen positif bagi pasar keuangan domestik. Karena saat ini sudah merebak keluarnya modal (capital outflows) dari pasar emerging economies, termasuk Indonesia.

Bahkan, kombinasi tekanan eksternal tersebut dengan defisit transaksi perdagangan pada April 2019 sebesar USD2,50 miliar diperkirakan akan menekan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia untuk 2019 ini.

"Maka tepat jika BI menegaskan ulang bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia lebih rendah dari perkiraan awal karena dipengaruhi ekonomi global yang menurun," tukasnya.

Secara keseluruhan, BI memprakirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia 2019 berada di bawah titik tengah kisaran 5,0-5,4% atau 5,2%.

"Untuk itu, patut diapresiasi langkah BI yang terus menempuh bauran kebijakan bersama dengan Pemerintah, dan otoritas terkait guna menjaga momentum pertumbuhan ekonomi," papar Ryan.

Ke depan, lanjut dia, peran pemerintah yang lebih besar untuk menggerakkan roda perekonomian melalui jalur fiskal diharapkan mampu menopang kebijakan moneter yang sudah menunjukkan gregetnya di sepanjang lima bulan pertama tahun 2019 ini.
(ven)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak