alexametrics

Ekonom Ini Perkirakan Rupiah Baru Akan Membaik di Kuartal III

loading...
Ekonom Ini Perkirakan Rupiah Baru Akan Membaik di Kuartal III
Rupiah dinilai cenderung melemah akibat tekanan ekspternal serta gejolak politik di dalam negeri. Foto/Ilustrasi
A+ A-
JAKARTA - Nilai tukar rupiah diperkirakan makin melemah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) akibat gejolak politik dan pengaruh eksternal. Rupiah diprediksi bakal sulit menjaga keseimbangannya saat ini.

Chief Economist CIMB Niaga Adrian Panggabean mengatakan, rupiah diperkirakan melemah makin dalam bila gejolak politik di dalam negeri makin panas. Tanpa gejolak politik pun, kata dia, rupiah cenderung tertekan pada semester II/2019 ini.

"Rate nilai tukar rupiah terhadap dolar saya prediksi berkisar Rp13.900 sampai Rp14.700 per USD. Itupun kalau tidak ada gejolak politik," kata Adrian di Bandung, Selasa (21/5/2019).



Dia menyebut, tekanan terhadap rupiah juga dipengaruhi kondisi defisit transaksi berjalan di semester II. Hal itu disebabkan banyaknya perusahaan multinasional yang berkedudukan di Indonesia membagikan dividen. Imbasnya, kebutuhan dolar diprediksi bakal naik.

Namun demikian, kata Adrian, nilai tukar rupiah bakal membaik di akhir triwulan III/2019. Pemerintah diperkirakan bakal mengambil kebijakan penting untuk menekan dolar.

Lebih lanjut dia menjelaskan, kondisi perekonomian nasional dalam enam bulan ke depan masih akan terus diwarnai volatilitas di pasar finansial. Volatilitas terjadi karena cenderung liarnya pergerakan pasar global di tengah masih rentannya struktur pembiayaan pembangunan di dalam negeri.

Pada saat yang sama, investasi juga diprediksi akan menurun, sehingga pertumbuhan ekonomi akan lebih rendah dari kuartal I/2019 menjadi 5%.

"Kami memprediksi pertumbuhan ekonomi di tahun ini, secara keseluruhan hanya akan berada di kisaran 5%. Belanja konsumsi rumah tangga yang cenderung stabil dan belanja rutin pemerintah yang naik cukup besar kami perkirakan sebagai pendorong utama pertumbuhan ekonomi. Tapi faktor eksternal akan menekan pertumbuhan," katanya.

Dengan kondisi perekonomian yang masih cukup menantang tersebut, lanjut Adrian, pemerintah perlu mengambil kebijakan-kebijakan ekonomi yang agresif dan struktural agar pertumbuhan ekonomi terus meningkat.
(fjo)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak