alexametrics

Wall Street Lebih Tinggi Usai Trump Picu Harapan Perdagangan AS-China

loading...
Wall Street Lebih Tinggi Usai Trump Picu Harapan Perdagangan AS-China
Wall Street naik lebih tinggi usai mendapatkan dorongan dari komentar penuh harapan yang dilontarkan Presiden AS Donald Trump mengenai hubungan perdagangan dengan China. Foto/Ilustrasi
A+ A-
NEW YORK - Indeks saham utama Amerika Serikat yakni Wall Street naik lebih tinggi pada perdagangan, Jumat kemarin waktu setempat usai sempat jatuh pada sesi sebelumnya. Dorongan datang dari komentar penuh harapan yang dilontarkan Presiden AS Donald Trump mengenai hubungan perdagangan dengan China untuk sedikit meredalam kekhawatiran di antara beberapa investor.

Trump mengatakan pada Kamis malam lalu, bahwa Ia melihat resolusi untuk perang perdagangan dengan China bakal "terjadi dengan cepat." Ia menambahkan bahwa perusahaan peralatan telekomunikasi China, Huawei Technologies Co Ltd, yang masuk dalam daftar hitam Gedung Putih juga dapat dimasukkan dalam kesepakatan perdagangan.

Namun, Trump tetap menyebutkan Huawei "sangat berbahaya." Sejauh ini belum ada pembicaraan tingkat tinggi antara Amerika Serikat dan China yang telah dijadwalkan sejak putaran terakhir perundingan di Washington dua minggu lalu. Namun komentar Trump sudah cukup untuk sedikit mengangkat saham AS dalam aktivitas yang diredam menjelang akhir pekan yang panjang.



Jumat menandai volume terendah tahun ini untuk sesi perdagangan penuh. Selanjutnya bursa saham AS akan ditutup pada hari Senin untuk liburan Hari Peringatan. Saham secara luas, dengan sembilan dari sektor utama S&P 500 bergerak lebih tinggi, meskipun penurunan saham Apple Inc dan Alphabet Inc membatasi kenaikan pada indeks utama.

Meski begitu, indeks patokan S&P 500 mengakhiri pekan ini dengan lebih dari 1% untuk mengalami kerugian minggu ketiga berturut-turut di indeks benchmark, yang telah terbebani oleh kekhawatiran bahwa perang perdagangan AS-China bakal mengakibatkan perlambatan ekonomi global. Menambah kekhawatiran tentang perlambatan ekonomi yang meluas, data terbaru menunjukkan bahwa pesanan baru untuk barang modal buatan AS turun lebih dari yang diharapkan pada bulan April.

Dow Jones Industrial Average terpantau berhasil mencetak kenaikan hingga 95,22 poin yang setara 0,37%, menjadi 25.585,69 untuk mengiringi lonjakan pada indeks S&P 500 dengan tambahan 3,82 poin atau 0,14% ke level 2,826,06. Sedangkan Komposit Nasdaq ikut melompat lebih tinggi mencapai 8,73 poin atau 0,11% ke posisi 7.637,01.

Sepanjang pekan ini, Dow sudah turun 0,68% serta mengiringi penyusutan S&P 500 sebesar 1,16% dan Nasdaq anjlok 2,29%. Dow Jone tergelincir untuk minggu kelima berturut-turut, serta menjadi pelemahan beruntun terpanjang dalam delapan tahun. Sementara S&P 500 dan Nasdaq masing-masing mencatat penurunan tiga minggu pertama mereka tahun ini.

Saham-saham berkapitalisasi kecil turun sebagian besar sejalan dengan saham-saham berkapitalisasi besar karena ketegangan perdagangan AS dan China telah meningkat. Sedangkan sektor keuangan memimpin kenaikan secara persentase di antara sektor utama S&P 500, usai bertambah 0,8% karena imbal hasil keuangan AS naik untuk pertama kalinya dalam tiga hari.

Saham Foot Locker Inc anjlok 16,0% menjadi yang terbesar di antara perusahaan S&P 500, setelah peritel alas kaki tersebut kehilangan laba kuartalan dan estimasi penjualan toko yang sama. Saham Total System Services Inc melonjak 13,9% di tengah laporan bahwa sesama perusahaan layanan teknologi pembayaran Global Payments Inc mendekati kesepakatan untuk mengakuisisi.

Selanjutnya saham Autodesk Inc turun 4,9% setelah produsen perangkat lunak itu melaporkan pendapatan kuartalan dan pendapatan yang di bawah ekspektasi. Volume perdagangan bursa saham AS mencapai 5,48 miliar saham, atau lebih rendah jika dibandingkan dengan rata-rata 6,95 miliar untuk sesi penuh selama 20 hari perdagangan terakhir.
(akr)
preload video
loading...
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak