alexametrics

Rupiah Berakhir Merayap Saat Dolar Tergelincir

loading...
Rupiah Berakhir Merayap Saat Dolar Tergelincir
Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) pada akhir perdagangan, Rabu (12/6/2019) merayap tipis untuk terus menjaga raihan positif saat dolar tertekan. Foto/Ilustrasi
A+ A-
JAKARTA - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) pada akhir perdagangan, Rabu (12/6/2019) merayap tipis untuk terus menjaga raihan positif setelah libur panjang Lebaran. Kurs rupiah yang terus berjuang bertahan di zona hijau mengiringi dolar AS yang tergelincir ketika harapan penurunan suku bunga The Fed semakin besar.

Data Yahoo Finance hingga sesi sore menunjukkan rupiah naik tipis menjadi Rp14.230/USD dari penutupan sebelumnya Rp14.235/USD. Pergerakan harian rupiah pada hari ini berada pada kisaran Rp14.215 hingga Rp14.260/USD.

Posisi rupiah melihat data Bloomberg, pada perdagangan spot exchange justru tergerus hingga Rp14.241/USD dibandingkan sesi akhir Selasa, kemarin pada posisi Rp14.238/USD. Rupiah hari ini bergerak di antara Rp14.226-Rp14.261/USD.



Berdasarkan data SINDOnews bersumber dari Limas, rupiah juga berangsur pulih ke level Rp14.247/USD dari kemarin Rp14.255/USD. Dolar tertekan, sedangkan rupiah coba balik menguat di tengah ketidakpastian global yang terus membayangi.

Menurut kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) BI, rupiah tertahan pada zona hijau menjadi Rp14.234/USD untuk menjadi sinyal perlawanan mata uang Garuda. Posisi ini memperlihatkan rupiah merangkak usai sebelumnya berada pada level Rp14.258/USD.

Sementara itu seperti dilansir Reuters, Dolar berangsur lebih rendah untuk hari kedua berturut-turut pada hari Rabu di tengah meningkatnya ekspektasi penurunan suku bunga AS minggu depan. Sementara mata uang berimbal hasil tinggi menderita karena ketegangan perdagangan yang sedang berlangsung.

Terhadap enam mata uang rival lainnya, tercatat dolar 0,1% lebih rendah menjadi 96,64 dan sedikit di atas posisi terendah dua setengah bulan di 96,46 yang dicapai minggu lalu. Perbedaan perdagangan antara dua ekonomi terbesar dunia mulai tercermin dalam data dengan inflasi pabrik China melambat pada Mei, sementara komentar baru-baru ini para pejabat Fed menjadi semakin berhati-hati.
(akr)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak