alexametrics

Harga Minyak Kembali Menguat Imbas Menurunnya Pasokan AS

loading...
Harga Minyak Kembali Menguat Imbas Menurunnya Pasokan AS
Harga minyak kembali menguat karena menurunnya pasokan minyak mentah Amerika Serikat. Foto/Istimewa
A+ A-
TOKYO - Harga minyak mentah kembali menguat, lebih dari 1% pada perdagangan Kamis (20/6/2019), setelah data resmi mengabarkan pasokan minyak mentah Amerika Serikat turun lebih dari yang diperkirakan. Sementara, OPEC dan produsen minyak lainnya sepakat untuk mengadakan pertemuan membahas pengurangan produksi.

Mengutip dari Reuters, harga minyak mentah berjangka Brent International naik 82 sen atau 1,3% menjadi USD62,64 per barel pada pukul 00:26 GMT. Harga minyak mentah berjangka AS, West Texas Intermediate (WTI) meningkat 79 sen atau 1,5% menjadi USD54,55 per barel.

Data Administrasi Informasi Energi (EIA) mengumumkan pasokan minyak mentah AS turun 3,1 juta barel pada pekan lalu, jauh lebih tinggi dari perkiraan analis sebesar 1,1 juta barel. Produk olahan juga mengalami penurunan signifikan. Padahal selama awal tahun, produksi minyak mentah AS terus meningkat mendekati level tertinggi dua tahun.



Adapun Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan produsen lainnya seperti Rusia, sepakat mengadakan pertemuan pada 1-2 Juli di Wina, Austria. OPEC Plus akan membahas apakah akan memperpanjang kesepakatan pemangkasan produksi 1,2 juta barel atau tidak. Kesepakatan yang dibuat awal tahun ini akan habis pada akhir Juni.

Menteri Energi Uni Emirat Arab mengatakan kepada surat kabar Al-Bayan bahwa perpanjangan pemangkasan produksi adalah hal logis dan masuk akal. Jika kesepakatan ini terjadi maka kenaikan harga minyak kemungkinan akan terus terjadi.

Hal ini ditambah harapan Federal Reserve yang memberi sinyal menurunkan suku bunga, peluang pembicaraan dagang AS dengan China, dan ketegangan di Timur Tengah, yang mendukung pasar minyak. Untuk masalah Timur Tengah, ketegangan bertambah setelah serangan roket di Irak selatan yang menyasar perusahaan-perusahaan minyak AS, termasuk raksasa energi AS ExxonMobil. Hal ini semakin meningkatkan ketegangan AS dengan Iran.
(ven)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak