alexametrics

Stewart Butterfield, Pendiri dan CEO Slack

Pelopor Plaform Kolaborasi Kerja

loading...
Pelopor Plaform Kolaborasi Kerja
Stewart Butterfield, Pendiri dan CEO Slack. (CNBC).
A+ A-
STEWART Butterfield, pebisnis teknologi asal Kanada, mendirikan Slack Technologies Inc setelah menjual startup Flickr ke Yahoo senilai USD20 juta. Kini, Slack membawanya menjadi salah satu orang terkaya di dunia.

Dengan kepemilikan saham 8 persen, maka kekayaan Stewart Butterfield mencapai USD1,3 miliar dengan valuasi USD16 miliar. Pendiri Slack lainnya, Cal Henderson, 38, memiliki 3 persen saham senilai USD533 juta.

Butterfield, pendiri dan CEO berusia 46 tahun, memiliki masa lalu yang meskin. Ia tinggal di pondok kayu tanpa listrik dan air mengalir selama beberapa tahun pertama dalam hidupnya. Dia diperkenalkan ke komputer di kelas dua SD tetapi kehilangan minat dalam teknologi saat ia semakin tua dan melanjutkan untuk belajar filsafat di perguruan tinggi.



"Pada saat saya menyelesaikan gelar master saya, saya benar-benar tidak tahu apa yang akan saya lakukan kecuali menjadi akademisi. Karena, sulit mencari pekerjaan," kata Butterfield kepada Bloomberg.

Setelah menjalankan menjajal dunia startup lewat Communicate.com dan Gradfinder.com, Butterfield ketagihan. Ia pun mendirikan Flickr, layanan hosting foto dan video yang ia jual ke Yahoo pada 2005.

Butterfield bekerja di Yahoo hingga 2008 dan kemudian mendirikan Glitch, yang menjadi perusahaan bernilai miliaran dolar yang sekarang bernama Slack.

Slack, sendiri merupakan akronim untuk Searchable Log of All Conversation and Knowledge atau "Log yang Dapat Dicari dari Semua Percakapan dan Pengetahuan,". Saat ini, setelah Slack melakukan IPO, maka Butterfield otomatis menjadi salah satu orang terkaya di dunia.

Direct Listing, Bukan IPO
Tahun ini Slack mendapat pencapaian baru. Yakni, melantai di bursa saham. Namun, alih-alih melakukan penawaran saham perdana (IPO), perusahaan tersebut justru memilih melakukan direct offering.

Berbeda dengan IPO, direct offering memungkinkan pemilik saham untuk langsung membeli saham mereka di New York Stock Exchange tanpa bantuan lembaga investasi.

Direct listing merupakan pendaftaran saham tanpa menjual saham baru yang memungkinkan dapat menghemat biaya underwriting IPO. Tidak ada penggalangan dana baru atau menggunakan penjamin pelaksana emisi (underwriter) dalam aksi korporasi. Dengan mekanisme ini, proses akan meniadakan fluktuasi harga saham yang biasnaya dijumpai pada IPO, meski mengurangi jumlah uang yang dihasilkan perusahaan

Tujuan perusahaan memilih direct listing, antara lain tidak melepas saham baru ke publik secara sembarangan. Karena saham yang tercatat adalah saham eksisting yang dimiliki investor dan karyawan. Di IPO standar, pembeli awal diusahakan untuk membeli blok saham baru sebelum masuk ke pasar terbuka. Dalam mekanisme ini, nilai saham biasanya naik karena para investor institusi (pembeli awal) menjual saham untuk mendapatkan keuntungan. Dengan demikian harga saham bisa lebih besar.

Strategi ini memang tidak biasa. Tapi, dilakukan juga oleh Spotify pada 2018. Hasilnya, Spotify menjual sahamnya senilai USD165 per lembar dan mendapatkan valuasi USD29,5 miliar atau terbesar pada tahun itu.

Adapun saham Slack ditutup pada USD38.62 per lembar atau 50 persen di atas harga prediksi, membuat perusahaan tersebut memiliki valuasi USD19.47 miliar.

Saat ini, Slack memang belum membukukan profit alias masih merugi. Walau menjadi salah satu pemain terbesar di pasar komunikasi perusahaan, namun pesaingnya pun tidak sedikit. Termasuk Teams milik Microsoft.

Ketika Slack meluncurkan aplikasi chat pada 2013, kompetitor utamanya adalah HipChat buatan Atlassian, yang sukses menggelar IPO pada 2015. Tapi Slack kemudian menggeser HipChat. (Danang Arradian)
(nfl)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak