alexametrics

Bisnis dan Arus Modal Mulai Tinggalkan Hong Kong Menuju Singapura

loading...
Bisnis dan Arus Modal Mulai Tinggalkan Hong Kong Menuju Singapura
Singapura memperingatkan para pengelola kekayaan (wealth management) agar tidak agresif memasarkan layanan atau merayu kliennya ke Singapura dengan memanfaatkan gejolak politik Hong Kong. Foto/Ilustrasi
A+ A-
HONG KONG - Singapura memberikan peringatan kepada para pengelola kekayaan (wealth management) agar tidak agresif memasarkan layanannya atau melakukan upaya lain untuk merayu kliennya ke Singapura dengan memanfaatkan gejolak politik Hong Kong. Pejabat dari Otoritas Moneter Singapura (MAS) bulan lalu mengajukan permintaan kepada perusahaan wealth management termasuk DBS dan dua unit Oversea Chinese Banking Corp (OCBC), menurut sumber yang enggan disebutkan namanya.

Seperti dilansir Reuters, Jumat (12/7/2019) Bank sentral mengatakan kepada para bankir bahwa mereka ingin memastikan para manajer kekayaan di Singapura peka terhadap situasi di Hong Kong dan tidak merancang kampanye yang secara khusus menargetkan bisnis dari situasi Hong Kong.

Langkah ini dilakukan ketika Hong Kong dilanda kekacauan akibat unjuk rasa terhadap usulan RUU ekstradisi China. Beberapa taipan di wilayah yang dikuasai China telah memindahkan dana atau dianggap melakukan hal itu, mengingat ketentuan dalam RUU yang akan memungkinkan China berpotensi membekukan dana atau aset lain.



Kerusuhan itu juga mendorong beberapa wealth management untuk memilih mendirikan usaha di Singapura setelah mempertimbangkan Hong Kong, pusat offshore pertama untuk pengelolaan kekayaan di Asia.

Saat diminta komentar tentang kabar ini, MAS merujuk komentar direktur pelaksananya Ravi Menon pada bulan lalu yang mengatakan bahwa tidak ada tanda-tanda pergeseran bisnis atau dana dari Hong Kong ke Singapura.

Dia mengatakan bahwa setiap pergolakan di Hong Kong sebenarnya bisa menjadi efek negatif bagi Singapura. Tidak jelas seberapa banyak bank yang menerima peringatan MAS. Bank swasta secara rutin dan legal membantu klien untuk memindahkan dan mengelola aset mereka di berbagai belahan dunia.

"Pesannya adalah bahwa kita seharusnya tidak mengambil keuntungan yang tidak semestinya dari apa yang terjadi di Hong Kong," ujar seorang sumber perbankan senior yang enggan disebut namanya.

Dia mengajak bertindak secara bertanggungjawab dan tidak meluncurkan kampanye untuk meyakinkan klien bahwa ini adalah saat yang tepat bagi mereka untuk memindahkan asetnya. "Kami mendapat banyak pertanyaan. Apa yang bisa kita lakukan jika klien ingin memindahkan uang ke sini? Kami tidak bisa mencegah," imbuh sumber perbankan yang berbasis di Singapura.

Pusat Keuangan


Hong Kong dan Singapura bersaing keras untuk dianggap sebagai pusat keuangan utama Asia. Bank swasta global termasuk Credit Suisse dan UBS serta wealth management Asia yang memiliki operasi regional di dua wilayah itu.

Kekayaan yang dipegang oleh taipan Hong Kong hingga saat ini menjadikan kota itu sebagai basis kekayaan pribadi yang lebih besar, dengan 853 individu bernilai lebih dari USD100 juta, dua kali lipat jumlahnya dari singapura, menurut laporan Credit Suisse tahun 2018.

Bank-bank Singapura termasuk DBS dan OCBC memperluas bisnisnya di Hong Kong dan China selama beberapa tahun terakhir dan wilayah Greater China menyumbang sebagian besar dari pendapatan mereka.

Seperti rekan-rekan globalnya, wealth management Singapura juga memiliki desk Greater China di Singapura yang diperuntukkan bagi klien di China, Hong Kong dan Taiwan dan membantu mereka membuka rekening bank atau mendirikan kantor.
(akr)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak