alexametrics

PLN Tembus Desa Terluar di Kabupaten Kupang

loading...
PLN Tembus Desa Terluar di Kabupaten Kupang
Pelaksanaan Program Listrik Desa (LISSA) PLN membutuhkan dukungan masyarakat karena butuh kerja keras di wilayah dengan infrastruktur terbatas. Foto/Ilustrasi
A+ A-
JAKARTA - PT PLN (Persero) gencar menerapkan program Listrik Desa (LISSA) untuk meningkatkan rasio elektrifikasi (RE) nasional sekaligus mendorong kesejahteraan dan kegiatan ekonomi di desa-desa serta pulau-pulau terluar.

Dalam rangka itu, PLN Unit Induk Wilayah (UIW) NTT pekan lalu mengadakan program sosialisasi listrik desa di Desa Pathau, Kecamatan Amabi Oefeto Timur, Kabupaten Kupang. Desa ini termasuk kategori desa terdepan, terluar dan tertinggal (3T). Penyaluran listrik di Desa Pathau adalah bagian dari program PLN "Wujudkan 100% Desa Berlistrik di NTT" guna mengejar target rasio elektrifikasi 90% pada 2019.

Sosialisasi itu bertujuan agar masyarakat dapat memahami serta mendukung sepenuhnya pelaksanaan pekerjaan dari awal hingga akhir. Pasalnya, pelaksanaan program LISSA mengharuskan PLN bekerja keras di wilayah dengan infrastruktur terbatas, mulai dari pengangkutan material ke lokasi desa, pematokan dan penancapan tiang, penarikan kabel dan pemasangan aksesoris lainnya, hingga jaringan siap dialiri listrik.



"Kami berharap masyarakat memahami dan mendukung sepenuhnya seluruh proses pekerjaan agar dapat selesai dengan baik dan tepat waktu. Kami berupaya agar masyarakat dapat segera menikmati listrik," papar Asisten Manager Stakeholder PLN UIW NTT Yohan Tokael dalam keterangan pers, Kamis (18/7/2019).

Materi sosialisasi, jelas dia, meliputi hak dan kewajiban sebagai pelanggan PLN, manfaat dan bahaya listrik, informasi penyambungan listrik, serta migrasi bagi eks pelanggan Sehen (solar cell).

Langkah PLN tersebut disambut haru warga dusun yang mengungkapkan apresiasinya atas upaya melistriki desa mereka. "Terima kasih PLN, ini mimpi yang menjadi kenyaataan karena kita akan punya listrik sendiri. Dengan adanya listrik dari PLN pastinya pengeluaran bulanan kami dapat dikurangi, kami pun dapat dengan bebas beraktivitas baik siang maupun malam," ungkap Meru Besik, Kepala Dusun 1.

Senada dengan Meru Besik, Mama Nubatonis (47) salah seorang warga Dusun I mengemukakan kebahagiaannya karena listrik berarti malam hari di dusun tersebut tak lagi gelap gulita. Mama Nubatonis sama seperti kebanyakan warga Desa Pathau pada umumnya, menggunakan lampu pelita berbahan bakar minyak tanah sebagai alat penerangan malam hari. "Kami harap pekerjaannya berjalan lancar dan bisa lebih cepat," harap Mama Nubatonis.
(fjo)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak