alexametrics

Swasta Kembangkan Ekonomi Sirkular di Labuan Bajo

loading...
Swasta Kembangkan Ekonomi Sirkular di Labuan Bajo
Danone-Aqua mengembangkan ekonomi sirkular di Labuan Bajo. Foto/Dok.
A+ A-
JAKARTA - Salah satu upaya mengatasi permasalahan sampah plastik adalah melalui dukungan serta pengembangan ekonomi daur ulang atau ekonomi sirkular. Danone-Aqua merupakan salah satu perusahaan yang percaya akan pentingnya ekonomi daur ulang melalui kerja sama multipihak.

Setelah sukses mengembangkan ekonomi daur ulang di Jabotabek dan Bali, mereka bersama pemangku kepentingan lain berupaya mengembangkan ekonomi sirkular untuk mengatasi sampah plastik di Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur.

Menandai dimulainya dukungan terhadap pengembangan ekonomi daur ulang plastik di Labuan Bajo, baru-baru ini dilakukan pengiriman perdana botol plastik bekas sebanyak 10 ton, yang terkumpul melalui Koperasi Serba Usaha (KSU) Komodo, Pusat Daur Ulang (PDU) Batu Cermin dan Sektor Informal di Labuan Bajo.



Botol bekas tersebut akan dikirimkan ke Recycling Business Unit (RBU) mitra Danone-Aqua di Bali. Selanjutnya dengan menggunakan teknologi tinggi di proses menjadi bahan baku botol baru untuk produk Aqua Life yang menggunakan kemasan berbahan 100 persen plastik daur ulang.

Ke depan, kemasan plastik yang terkumpul akan dikirimkan langsung ke Pabrik Daur Ulang Veolia di Pasuruan Jawa Timur yang akan mulai beroperasi di awal tahun 2020.

Inisiatif mendorong ekonomi sirkular dalam bisnis daur ulang plastik ini merupakan upaya Danone-Aqua untuk memberikan solusi nyata bagi permasalahan lingkungan khususnya mencegah sampah plastik masuk lautan di Labuan Bajo dan sekitarnya, serta mendukung program pemerintah Indonesia untuk mengurangi 70% sampah plastik di lautan pada tahun 2025.

Labuan Bajo merupakan wilayah yang strategis, pintu masuk pulau Komodo yang menjadi warisan budaya UNESCO. Pemerintah Indonesia telah menetapkan Labuan Bajo sebagai salah satu dari program 10 Bali Baru.

Presiden Joko Widodo beberapa waktu lalu telah berkunjung dan menargetkan Labuan Bajo sebagai destinasi wisata kelas dunia. Namun, saat ini Labuan Bajo masih menghadapi tantangan yang membutuhkan perhatian kita semua yaitu bagaimana mengelola sampah khususnya sampah plastik.

Untuk itu, pemerintah dengan dukungan berbagai pihak melakukan pembenahan diberbagai aspek termasuk pengelolaan sampah yang berkelanjutan. Berdasarkan data WWF dan kajian tim penyusun rencana pengelolaan sampah, rata-rata timbulan sampah di kota Labuan Bajo mencapai 112,4 m3 per hari atau setara dengan 12,8 ton per hari.

Berbagai pihak baik Pemerintah Pusat, Daerah serta Lembaga Swadaya Masyarakat telah bekerja keras untuk mengatasi permasalahan sampah plastik. Keterlibatan Danone-Aqua di Labuan Bajo yang telah dimulai sejak tahun 2017, bertujuan memperkuat ekosistem daur ulang sampah plastik dengan memfasilitasi peningkatan pengumpulan sampah botol plastik yang dilakukan oleh Kooerasi Serba Usaha (KSU) Komodo, Pusat Daur Ulanh Batu Cermin serta pengepul dari sektor informal.

Danone-Aqua juga berkomitmen untuk menjadi pengguna (off taker) hasil daur ulang botol plastik yang berhasil di kumpulkan sebagai bahan baku botol baru. Dengan komitmen ini program pengumpulan botol plastik yang telah di mulai sejak beberapa tahun lalu akan terjamin keberlanjutannya.

Terkait inisiatif ini, Suseno Sukoyono, Staf Ahli Menteri Bidang Kemasyarakatan dan Hubungan Antar Lembaga, Kementerian Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia mengatakan, "Kementerian Kelautan dan Perikanan mendukung penguatan KSU sebagai salah satu bentuk penanggulangan sampah pesisir. Kami mengajak seluruh pihak untuk mendukung berkembangnya ekonomi sirkular di Labuan Bajo agar lingkungan di Labuan Bajo dapat terjaga dan semakin mengembangkan potensi pariwisatanya".

Pada kesempatan sama, Sustainable Development Director Danone Indonesia, Karyanto Wibowo, mengatakan inisiatif ini merupakan aksi nyata gerakan #BijakBerplastik, memperkuat komitmen pihaknya untuk Indonesia yang lebih bersih dan mendukung tujuan pemerintah Indonesia untuk mengurangi sampah di lautan.

"Kami berfokus kepada tiga aspek inti yaitu: pengembangan infrastruktur pengumpulan, pendidikan daur ulang untuk konsumen dan inovasi kemasan. Tiga aspek inti ini bertujuan untuk membantu mencapai ambisi kami pada tahun 2025 untuk mengumpulkan lebih banyak plastik daripada yang kami gunakan," ujarnya, Senin (22/7/2019).

Arif Mujahidin, Corporate Communications Director Danone Indonesia menambahkan bahwa model yang saat ini dibangun di Labuan Bajo merupakan contoh penerapan konsep ekonomi sirkular, sebagai salah satu solusi dalam pengelolaan sampah plastik bisa dilakukan.

Model ekonomi sirkular dimana sampah plastik akan diolah menjadi bahan baku sehingga memberikan dampak positif baik aspek lingkungan maupun ekonomi.

"Meskipun demikian, terdapat beberapa tantangan dalam membangun model ekonomi sirkular di Labuan Bajo antara lain, mahalnya biaya pengangkutan ke pabrik daur ulang yang berlokasi di Pulau Jawa, kesadaran masyarakat untuk membuang sampah di tempatnya dan juga infrastruktur yang kurang memadai," Arif menjelaskan.

Komitmen menerapkan ekonomi sirkular dilakukan melalui menjadikan kemasan plastiknya sebagai sumber daya atau bahan baku yang dapat digunakan selama mungkin. Danone-Aqua telah memelopori pengumpulan dan program daur ulang kemasannya dengan mengembangkan Program Aqua Peduli pada 1993 sebagai langkah awal menuju model pengemasan yang lebih sirkular.

Saat ini, Danone-Aqua dapat mengumpulkan 12.000 ton plastik setiap tahunnya melalui 6 Recycling Business Unit di berbagai lokasi di Indonesia. Hal ini membuat Danone-Aqua sebagai satu satunya perusahaan Air Minum dalam Kemasan yang menggunakan bahan daur ulang di kemasan produknya.
(ven)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak