alexametrics

IMF Pangkas Proyeksi Pertumbuhan Global di Tengah Perang Dagang

loading...
IMF Pangkas Proyeksi Pertumbuhan Global di Tengah Perang Dagang
The International Monetary Fund (Dana Moneter Internasional/IMF) memangkas proyeksi pertumbuhan untuk ekonomi global pada tahun ini dan selanjutnya. Foto/Ilustrasi
A+ A-
LONDON - The International Monetary Fund (Dana Moneter Internasional/IMF) memangkas proyeksi pertumbuhan untuk ekonomi global pada tahun ini dan selanjutnya. Prediksi pertumbuhan pada tahun 2019 berada pada level 3,2% atau lebih rendah dari perkiraan April sebesar 3,3%.

Sementara pada tahun depan, IMF meramalkan ekonomi global tumbuh hingga 3,5% meskipun masih di bawah perkiraan sebelumnya yakni sebesar 3,6%. IMF menerangkan, bahwa pertumbuhan tetap melaju tenang, dimana ada kebutuhan mendesak untuk mengurangi ketegangan perdagangan dan teknologi.

Di sisi lain IMF justru mengkerek perkiraan pertumbuha untuk Inggris tahun ini menjadi 1,3% dari 1,2%. Revisi untuk ekonomi Inggris mencerminkan apa yang disebutkan dalam laporan bakal lebih kuat dari prediksi sebelumnya pada tiga bulan pertama tahun ini, didorong oleh penimbunan pra-Brexit.



Tahun depan, laporan IMF juga memprediksi pertumbuhan ekonomi Inggris ada di level 1,4%. Perkiraan terhadap kondisi Inggris didasarkan pada asumsi Brexit diikuti oleh transisi bertahap ke rezim baru. Seperti yang dicatat dalam laporan, diingatkan bahwa apa yang akan terjadi ini masih sangat tidak pasti.

"Pertumbuhan ekonomi global dalam kondisi lamban dan genting. Tetapi seharusnya tidak seperti ini, karena beberapa di antaranya disebabkan oleh mereka sendiri," ujar Kepala Ekonom IMF Gita Gopinath dalam sebuah wawancara dengan BBC.

Laporan terbaru IMF memaparkan implikasinya, serta sangat kritis kepada pendekatan Presiden AS Donald Trump terhadap kebijakan perdagangan. Dikatakan bahwa negara-negara seharusnya tidak menerapkan tarif atau pajak atas barang-barang yang diperdagangkan, yang ditargetkan untuk neraca perdagangan bilateral.

Atau sebagai pengganti dialog untuk menekan pihak lain agar melakukan reformasi. Kedua strategi ini digunakan oleh Tim Ekonomi Trump dalam pendekatan yang lebih tegas terhadap kebijakan perdagangan. Ia telah berusaha menekan negara-negara lain dengan mengambil langkah-langkah untuk mengurangi defisit AS.

Tujuan resmi kenaikan tarif yang ditujukan terhadap produk-produk China adalah reformasi. Pemerintahan Trump ingin China mengambil tindakan untuk menghentikan apa dilihat AS sebagai subsidi tidak adil dan akuisisi teknologi terhadap perusahaan Amerika yang merugikan.

IMF juga menyerukan agar ketidakpastian seputar perjanjian perdagangan diselesaikan dengan cepat, termasuk Brexit dan kesepakatan perdagangan bebas yang mencakup AS, Kanada, dan Meksiko.

Laporan tersebut menggambarkan inflasi tidak bersuara. Ditambah bersama dengan pertumbuhan yang lemah menunjukkan kebijakan suku bunga rendah yang diambil banyak negara merupakan langkah yang tepat.

Jepang dan zona euro sama-sama memiliki suku bunga bank sentral di bawah nol. Di pasar keuangan, Bank Sentral Eropa dan Federal Reserve AS diperkirakan akan memangkas suku bunga dalam beberapa bulan mendatang. Dalam kasus AS diyakini bakal terjadi minggu depan.

IMF memperkirakan bahwa ekonomi AS akan mengalami perlambatan yang signifikan karena stimulus dari pemotongan pajak memudar. Setelah pertumbuhan 2,9% tahun lalu, diprediksi ekonomi Negeri Paman Sam berada pada level 1,9% di tahun 2020.

Perkiraan penurunan peringkat terbesar terutama terjadi di beberapa negara berkembang, termasuk Brazil dimana terdapat ketidakpastian tentang pensiun dan reformasi lainnya. Sedangkan Afrika Selatan dipengaruhi oleh pemogokan, masalah pasokan energi dan produksi pertanian yang lemah.

Ada juga perkiraan penurunan peringkat yang lebih kecil untuk China yang sebagian besar mencerminkan ketegangan perdagangan dengan AS. Pertumbuhan global yang agak lebih cepat diprediksi untuk tahun depan, terutama didasarkan pada peningkatan empat negara berkembang yang mengalami tekanan berat yakni Turki, Argentina, Iran dan Venezuela. Namun Gopinath menekankan semuanya masih penuh ketidakpastian.
(akr)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak