alexametrics

Fintech P2P Lending Makin Diminati Dibarengi Potensi Rasio Pinjaman Macet

loading...
Fintech P2P Lending Makin Diminati Dibarengi Potensi Rasio Pinjaman Macet
Financial technology (fintech) peer to peer lending kian diminati masyarakat, yang juga dibarengi dengan meningkatnya rasio pinjaman macet atau tidak terbayar. Foto/Ilustrasi
A+ A-
JAKARTA - Financial technology (fintech) peer to peer lending kian diminati masyarakat, dimana jumlah peminjam (borrower) dan pemberi pinjaman (lender) juga terus mengalami pertumbuhan. Menjamurnya rekening lender dan borrower ini dibarengi dengan meningkatnya rasio pinjaman macet atau tidak terbayar dalam jangka waktu melebihi 90 hari tercatat sebesar 3,18%. Angka tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Terkait dengan hal tersebut, Chief Executive Officer (CEO) Akseleran Ivan Tambunan mempunyai jurus jitu meminimalisir risiko pinjaman macet yakni dengan melihat cash flow. “Kuncinya fokus di cash flow dan utamanya untuk Usaha Kecil Menengah (UKM) dengan performance yang sudah bagus. Produknya kita akan sediakan modal kerja berbasis tagihan dengan syarat sudah dapat PO, SPK dan punya invoice yang belum dibayar,” kata dia saat berbincang dengan SINDO di Sahid Center, Jakarta.

Salah satu faktor menyebarnya Fintech P2P Lending, lantaran mekanisme pinjaman secara online memang sangat mudah, cepat dan menggiurkan dari sisi return. Disamping borrower bisa memperoleh pinjaman dengan mudah, lender pun bisa mendapatkan imbal hasil yang lebih tinggi dibandingkan dengan instrumen investasi lain.



Berdasarkan ikhtisar data keuangan fintech lending Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Pada Februari 2019 jumlah akumulasi rekening lender di Jawa, luar Jawa dan luar negeri tercatat sebanyak 245.299 rekening atau naik 91,40%. Sementara jumlah akumulasi rekening borrower di Jawa, luar Jawa dan luar negeri per Februari 2019 tercatat sebesar 6.081.110 rekening atau tumbuh 1.012,3%.

Di sisi lain Akseleran giat melakukan sosialisasi dan edukasi baik dengan OJK maupun asosiasi. Pihaknya mengedukasi baik itu pemberi pinjaman maupun peminjam yang hendak berinvestasi melalui platformnya. OJK juga saat ini menganjurkan fintech bekerja sama dengan perusahaan asuransi yang mempunyai asuransi kredit sehingga tidak perlu lagi melakukan penagihan secara agresif melampaui batas tagihan yang ditetapkan.

Sebagai Fintech peer to peer lending, Akseleran sendiri berdiri sejak Oktober 2017 lalu dengan fokus pada pembiayaan kredit untuk pelaku usaha UKM. Model bisnis yang ditawarkan melalui pola kemitraan strategis, yakni memberikan pembiayaan kepada ekosistem mitra-mitranya. Mitra Akseleran ialah para pelaku usaha UKM di Indonesia.

Tahun ini Akseleran menargetkan saluran pinjaman mencapai Rp1 triliun dengan target pemberi pinjaman mencapai 200.000 rekening. Untuk saat ini, Akseleran telah mampu menyalurkan pinjaman sebesar Rp600 miliar dengan penerima pinjaman mencapai 98.000 rekening. Porsinya peminjam terbanyak terdapat di DKI Jakarta sebanyak 40%, Jawa 50% dan sisanya luar Jawa 10%.

“Untuk mencapai target itu kita sekarang sedang menjajaki kerja sama dengan financial institution ataupun perbankan. Ke depan kita akan menjangkau penerima pinjaman yang lebih banyak lagi melalui skema partnership supply chain financing. Jadi kita partneran sama anchor corporate untuk bisa masuk memberikan pinjaman kepada vendornya,” kata dia.

Pembiayaan melalui mekanisme supply chain saat ini mencapai sekitar 20%. Akseleran juga tetap menjaga kualitas aset dengan menekan angka kredit (Non Performing Loan/NPL) di atas 90 hari tetap dibawah 1%.
(akr)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak