alexametrics

Melalui Buku, Founder Jababeka Minta Pengusaha Jangan Lupa Budi Pekerti

loading...
Melalui Buku, Founder Jababeka Minta Pengusaha Jangan Lupa Budi Pekerti
Bedah buku Bringing Civilizations Together-Nusantara di Simpang Jalan karya SD Darmono Founder PT Kawasan Industri Jababeka Tbk (Jababeka Group). Foto/Dok.
A+ A-
JAKARTA - Menguasai iptek dan ekonomi adalah keharusan. Namun kecerdasan tersebut jangan sampai mengurangi budi pekerti dari masyarakat melek teknologi. Hal inilah yang ingin disampaikan oleh SD Darmono, Founder PT Kawasan Industri Jababeka Tbk (Jababeka Group) dalam bukunya, "Bringing Civilizations Together-Nusantara di Simpang Jalan".

Hal itu terungkap dalam bedah buku yang digelar President University bersama Kepustakaan Populer Gramedia (KPG) di Jakarta. Acara menghadirkan dua narasumber, yakni Prof Budi Susilo Soepandji selaku Ketua Yayasan Pendidikan Universitas Presiden (YPUP) yang juga mantan Gubernur Lemhanas periode 2011-2016, serta Muhammad A.S. Hikam, Dosen President University yang juga mantan Menteri Negara Riset dan Teknologi era Presiden Abdurahman Wahid.

Di depan para pelajar dan mahasiswa yang hadir, Budi Susilo Soepandji yang biasa disapa Prof Budi mengatakan, buku ini bercerita mengenai semangat dan optimisme seorang Darmono dalam upaya mengatasi berbagai persoalan utamanya membina manusia sebagai kunci peradaban.



"Ini merupakan buku yang penting, wajib dibaca, bagaimana kita membangun SDM yang unggul, mengolah tata ruang, membangun smartcity dan smartpeople, lalu budi pekerti, etika, cinta kasih, teknologi dan tantangan industri 4.0 hingga kepersoalan politik," katanya di President Lounge Menara Batavia, Jakarta, Kamis (25/7/2019).

Gagasan yang lahir di dalam buku Darmono ini sangatlah dibutuhkan untuk membangun bangsa dewasa ini. "Di sini kita bisa lihat cita-cita besar Pak Darmono agar bangsa ini menjadi bangsa yang maju dan masyarakatnya berdaya saing bahkan lebih unggul dari mereka di negara maju. Namun tetap menjunjung tinggi etika dan cinta kasih," ungkapnya.

Dalam buku ini, SD Darmono memilih suatu istilah teknis, "human processing factory", untuk mempertegas gagasannya membina manusia adalah kunci peradaban. "Human Process Factory atau pabrik proses manusia, dengan artian Indonesia memiliki potensi yang besar yang perlu digarap bersama-sama dengan dunia luar," imbuhnya.

Sementara itu, A.S Hikam menilai, selain sebagai pengusaha nasional, Darmono sangat piawai dalam menuangkan gagasan yang berasal dari pengalaman hidup yang dilakoni dan pengetahuan yang dimilikinya.

"Pak Darmono dikenal sebagai sosok pebisnis andal yang kapasitasnya berkelas internasional, namun menulis buku juga ternyata enak dibaca juga mudah dimengerti oleh semua lapisan. Jarang sekali ada orang seperti ini," kata Hikam.

Buku ini menjadi makin menarik, karena selama ini jarang ada pebisnis yang bicara soal etika. Selama ini dikatakan Hikam, pebisnis hanya akan mengedepankan keuntungan semata.

"Bukan hanya profit, etika menjadi prinsip utama Pak Darmono dalam menjalankan setiap proses bisnisnya," ujar Hikam.

Hal menarik lainnya, ungkap dia, adalah soal sentralisasi politik yang disinggung dalam buku. "Pebisnis selama ini menghindari yang berkaitan dengan politik. Namun, hal ini menjadi salah satu pandangan yang menarik diuraikan secara lugas oleh Pak Darmono di dalam bukunya," tandas Hikam.

Perlu diketahui, inti dari buku "Bringing Civilizations Together" karya SD Darmono adalah tentang membina manusia sebagai kunci peradaban. Peradaban tersebut dimulai dari cinta, yakni 'cinta akan kebijaksanaan' dan 'cinta akan pengetahuan'.

Adapun buku-buku yang telah ditulis ataupun membahas profil SD Darmono lainnya ialah: Menembus Batas: Pemikiran, Pendapat, dan Visi Setyono Djuandi Darmono (2006); Think Big, Start Small. Move Fast (2009); One City One Factory: Mewujudkan 100 Kota Baru (2015); dan Building a Ship While Sailing (2017).
(ven)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak