alexametrics

Unicorn RI Diklaim Singapura, Ekonom Sebut BUMN Harus Berperan ke Pendanaan

loading...
Unicorn RI Diklaim Singapura, Ekonom Sebut BUMN Harus Berperan ke Pendanaan
Ekonom Indef menilai klaim Singapura atas empat perusahaan rintisan (startup) Indonesia yang memiliki valuasi mencapai USD1 miliar atau Unicorn bisa merugikan ekonomi Indonesia. Foto/Ilustrasi
A+ A-
JAKARTA - Ekonom Indef Bhima Yudisthira menilai klaim Singapura atas empat perusahaan rintisan (startup) Indonesia yang memiliki valuasi mencapai USD1 miliar atau yang biasa disebut Unicorn akan sangat merugikan ekonomi Indonesia. Pasalnya empat tersebut adalah Gojek, Tokopedia, Bukalapak dan Traveloka yang punya kontribusi besar terhadap pertumbuhan ekonomi digital.

"Betul bisa merugikan karena dominannya modal asing di startup kita. Indonesia hanya akan dianggap sebagai pasar, ketika ada pembagian keuntungan maka yang paling menikmati adalah Negara lain (dalam hal ini Singapura)," ujar Bhima saat dihubungi SINDONews di Jakarta, Selasa (30/7/2019).(Baca Juga: Gojek hingga Traveloka, Unicorn Indonesia Diklaim Milik Singapura)
Dia menyebutkan arus modal yang keluar karena pembagian laba bisa sebabkan defisit di transaksi berjalan. Dalam komponen transaksi berjalan ada yang namanya Pendapatan Primer.

"Tahun 2018 defisit pendapatan primer akibat transfer laba ke luar negeri mencapai USD30,4 miliar atau setara Rp425,6 triliun. Akibatnya dalam jangka panjang makin didorong sektor ekonomi digital, maka konsekuensinya makin melebar CAD nya. CAD yang melebar akan membuat struktur ekonomi suatu negara lemah," paparnya.



Sambung dia menambahkan, unicorn Indonesia bisa kuat tanpa investor asing jika perusahaan BUMN berperan aktif dalam melakukan pendanaan. "Asalkan BUMN berani melakukan pendanaan yang spekulatif ke startup dalam negeri. Perlu ada insentif juga bagi konglomerasi swasta nasional untuk menyuntik startup tadi," jelasnya.
(akr)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak