alexametrics

Harga Minyak Melayang Setelah Trump Kembali Tabuh Perang Dagang

loading...
Harga Minyak Melayang Setelah Trump Kembali Tabuh Perang Dagang
Presiden AS Donald Trump kembali melancarkan perang dagang yang membuat harga minyak melambung. Foto/Istimewa
A+ A-
NEW YORK - Harga minyak mentah melayang lebih USD1 per barel pada Jumat (2/8/2019), angka rebound terbesar dalam lebih setahun. Kenaikan harga minyak setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, kembali memberlakukan lebih banyak tarif kepada produk impor China. Mengintensifkan kembali perang dagang.

Melansir dari Reuters, harga minyak Brent International naik USD1,53 atau 2,6% menjadi USD62,03 per barel pada pukul 02:20 GMT. Sementara itu, harga minyak mentah berjangka AS, West Texas Intermediate (WTI) melonjak USD1,02 atau 1,9% menjadi USD54,97 per barel.

Trump mengatakan pada Kamis, ia akan mengenakan tarif 10% pada produk impor China senilai USD300 miliar, mulai 1 September mendatang. Dan dapat menaikkan traif lebih lanjut bila Presiden China, Xi Jinping gagal mencapai kesepakatan perdagangan.



Pengumuman perluasan tarif dari Trump ke hampir semua produk impor China yang masuk ke AS, menandai berakhir gencatan senjata setelah pertemuan di KTT G20 di Osaka, Jepang, pada awal Juli.

Konflik dagang kedua negara sejak hampir dua tahun, telah membuar aktivitas manufaktur di kedua negara melambat. Aktivitas manufaktur China turun pada bulan Juli, demikian pula dengan aktivitas manufaktur di Negeri Abang Sam yang tergelincir. Membuat proyek-proyek konstruksi swasta jatuh ke level terendah dalam 1 1/2 tahun.

Kenaikan harga minyak juga dipicu oleh menurunnya produksi minyak Amerika Serikat. Selama empat minggu terakhir, data pemerintah AS menunjukkan produksi minyak turun 1,3% dibanding periode yang sama tahun lalu. Rata-rata produksi minyak AS kini 17,2 juta barel per hari.
(ven)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak