alexametrics

Genjot Pertumbuhan Ekonomi, Pemerintah Harus Punya Terobosan

loading...
Genjot Pertumbuhan Ekonomi, Pemerintah Harus Punya Terobosan
Tanpa terobosan baru dalam kebijakan, pemerintah dinilai sulit mendongkrak pertumbuhan ekonomi. Foto/Ilustrasi
A+ A-
JAKARTA - Direktur Riset CORE Indonesia Piter Abdullah menilai, pertumbuhan ekonomi 5,05% di kuartal II/2019 dapat diartikan bahwa Indonesia tidak mungkin bisa mencapai target pertumbuhan 5,3% seperti yang dicanangkan dalam APBN 2019. Bahkan, menurutnya angka pertumbuhan 5,2% pun akan sulit dicapai.

"Yang masih terkejar pertumbuhan di kisaran 5,1-5,15%. Itu pun dengan syarat pemerintah benar benar berupaya menggenjot konsumsi dan investasi," ujar Piter saat dihubungi di Jakarta, Senin (5/8/2019).

Menurut dia, tantangannya adalah bagaimana menjaga fokus pemerintah di tengah konsolidasi politik dan pembentukan kabinet. Meskipun tahun ini sulit mencapai target 5,3%, sambungnya, pemerintah masih punya peluang mengejar pertumbuhan yang lebih tinggi pada tahun 2020. Menurut dia, salah satu kunci yang menentukan adalah soliditas kabinet yang dibentuk tahun 2020 serta strategi kebijakan yang diusung.



"Apabila kebijakannya tetap seperti yang kemarin kemarin tidak ada terobosan, maka sebaiknya lupakan saja mimpi pertumbuhan ekonomi tinggi. Kita akan terus terperangkap di pembangunan 5%," tandasnya.

Di bagian lain, Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) Doddy Budi Waluyo mengatakan, pertumbuhan ekonomi Indonesia sulit untuk mencapai angka 5,2%. Hal ini ditandai dengan lesunya kinerja neraca perdagangan, baik ekspor maupun impor. "Rasanya sulit untuk ke 5,2%. Tapi di bawah 5% atau mencapai 4,9% itu enggak ya. Intinya antara 5% hingga 5,1%," ujarnya.

Perlambatan laju ekonomi Indonesia menurutnya sudah terlihat dari kinerja ekspor dan impor yang menurun pada semester I 2019. "Kunci kita ada di ekspor, karena ekspor membentuk transmisi dua hal. Kalau ekspor naik maka akan tumbuh ekonominya," imbuhnya.

Sementara itu, sambung dia, kebijakan BI menurunkan suku bunga acuannya 25 basis poin diharapkan menjadi pemicu gairah pasar modal dan ekspor Indonesia.
(fjo)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak