alexametrics

Kementan Upayakan Lampaui Target Ekspor Hortikultura Tahun 2019

loading...
Kementan Upayakan Lampaui Target Ekspor Hortikultura Tahun 2019
Kementan yakin ekspor komoditas hortikultura tahun ini akan meningkat signifikan. Foto/Ilustrasi
A+ A-
JAKARTA - Kinerja hortikultura menunjukkan peningkatan yang cukup menggembirakan sepanjang tahun 2018 sampai saat ini. Tercatat angka Nilai Tukar Usaha Pertanian (NTUP) hortikultura naik 3,6% begitu juga dengan Pendapatan Domestik Bruto (PDB) yang naik 36,2% jika dibandingkan tahun 2014.

Ditahun yang sama, upaya pemerintah untuk menggenjot ekspor hortikultura pun berbuah manis. Volume ekspor naik 10,4% dari 394.000 ton menjadi 435.000 ton dengan nilai Rp6,30 triliun.

Berdasarkan data Biro Pusat Statistik (BPS), di tahun 2018 terdapat kenaikan yang signifikan pada komoditas buah yaitu manggis yang mencapai 285%, mangga 123%, dan salak 29%. Sedangkan komoditas sayur masih didominasi dengan kapulaga, kacang panjang dan wortel.



Negara tujuan ekspor untuk produk hortikultura tidak lagi terpusat di negara tetangga namun mampu merambah ke Asia pasifik, Amerika, Uni Eropa, Timur Tengah bahkan Afrika. Terhitung produk hortikultura Indonesia berhasil menembus 113 negara.

Direktur Jenderal Hortikultura, Prihasto Setyanto yang hadir pada acara pelepasan ekspor bawang merah di wilayah Marunda, Bekasi menyatakan kegembiraannya atas kinerja positif sektor tersebut.

"Saya kira program pemerintah saat ini sudah on the right track. Terbukti, untuk horti saja meningkat luar biasa mulai dari tercapainya mandiri bawang merah dan cabai nasional sampai dengan kinerja ekspornya. Tahun ini kita targetkan naik," ujarnya, Selasa (6/8/2019).

Namun, capaian ini menurutnya harus terus ditingkatkan untuk mencapai target ekspor di tahun 2019. Upaya untuk menggenjot ekspor komoditas pertanian salah satunya dengan terobosan berupa penyederhanaan perizinan. "Dari yang sebelumnya bisa 3 bulan, kini eksportir hanya butuh 3 jam untuk mendapatkan izin ekspor melalui sistem online," tegasnya.

Anton menambahkan, tantangan di pasar global semakin ketat, sesama produsen saling bersaing dalam hal kualitas, kuantitas, dan kontinuitas produk. Negara berlomba-lomba menurunkan tarif sehingga harga lebih bersaing di pasar.

"Saat ini kita tidak lagi bisa bergantung pada penetapan tarif impor yang dianggap out of date. Ke depan, kita harus fokus dengan daya saing produk hortikultura nasional sehingga mampu menjadi raja di negeri sendiri," tutupnya.
(fjo)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak