alexametrics

Harga Minyak Mentah Melonjak di Tengah Pelemahan Dolar AS

loading...
Harga Minyak Mentah Melonjak di Tengah Pelemahan Dolar AS
Lompatan ini menandai pemulihan harga minyak, setelah sempat tertekan seiring kekhawatiran bahwa perlambatan ekonomi global akan menggerus permintaan minyak mentah. Foto/Ilustrasi
A+ A-
JAKARTA - Harga minyak mentah melonjak lebih dari USD1 per barel pada perdagangan, Kamis (8/8/2019) di tengah pelemahan dolar Amerika Serikat (USD). Lompatan ini menandai pemulihan harga minyak, setelah sempat tertekan seiring kekhawatiran bahwa perlambatan ekonomi global akan menggerus permintaan minyak mentah hingga memicu penurunan lebih dari 4% dalam sesi sebelumnya.

Dilansir Reuters hari ini, harga minyak mentah berjangka Brent mencetak rebound USD57,52 per barel atau meningkat USD1,29 yang setara dengan 2,29% dibandingkan penutupan terakhir pada 0032 GMT. Sedangkan harga minyak mentah AS melonjak mencapai sebesar USD1,30 atau 2,54% menjadi USD52,39 per barel.

Kedua kontrak mencapai level terendah sejak Januari pada hari Rabu, kemarin setelah peningkatan persediaan minyak mentah AS menjadi kejutan hingga menambah kekhawatiran bahwa perang perdagangan AS-China yang sedang berlangsung dapat semakin mengurangi pertumbuhan permintaan tahun ini. "Dolar AS kehilangan tenaga dan mengurangi tekanan pada harga minyak," kata Alfonso Esparza, seorang analis pasar senior yang berbasis di Toronto di Oanda.



Bicara tindakan lebih lanjut untuk menopang pasar minyak dari Arab Saudi dan produsen lain di Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) juga mendukung harga minyak mentah. Bloomberg dalam sebuah laporan mengutip seorang pejabat Saudi yang mengatakan, bahwa eksportir utama dunia sedang dalam pembicaraan dengan produsen lain untuk mengambil tindakan untuk menghentikan penurunan harga minyak.

"Retorika perang dagang akan terus membimbing pasar, tetapi komentar dari Arab Saudi dapat menyebabkan tindakan yang belum pernah terjadi sebelumnya untuk menstabilkan harga. Sulit membayangkan bagaimana kelihatannya mengingat betapa sulitnya untuk mendapatkan OPEC + untuk menyetujui perjanjian batas produksi, tetapi mengingat potensi kejatuhan dari minyak mentah jika perang dagang berlanjut, tidak ada pilihan," kata Esparza.
(akr)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak