alexametrics

Trump Redam Ketakutan Krisis Keuangan AS

loading...
Trump Redam Ketakutan Krisis Keuangan AS
Donald Trump telah mencoba untuk meyakinkan pasar tentang risiko jatuhnya Amerika Serikat (AS) ke dalam resesi keuangan dengan mengatakan perekonomian berjalan sangat baik. Foto/Ilustrasi
A+ A-
JAKARTA - Donald Trump telah mencoba untuk meyakinkan pasar tentang risiko jatuhnya Amerika Serikat (AS) ke dalam resesi keuangan dengan mengatakan perekonomian berjalan sangat baik. Presiden AS mengaku belum melihat kemungkinan terjadinya krisis, yang biasanya ditandai dengan penyusutan ekonomi selama dua kuartal berturut-turut.

Dilansir BBC, Senin (19/8/2019) pada pekan lalu dimana pasar keuangan mengindikasikan peluang terjadinya resesi masih ada. Dimana "Inverted Yield Curve" kerap muncul sebelum resesi, atau setidaknya perlambatan signifikan dalam pertumbuhan ekonomi. Namun berbicara kepada wartawan pada hari Minggu, Trump berkata: "saya tidak melihat resesi. Dunia ini dalam resesi sekarang".

"Saya tidak berpikir kita (Amerika Serikat) mengalami resesi. Kami melakukan sangat baik, konsumen kami kaya, saya memberikan pengurangan pajak yang luar biasa, dan mereka mendapatkan banyak uang,".



Pernyataan Trump, merujuk pada kinerja sehat yang dicetak Walmart minggu lalu, peritel AS itu sering digambarkan sebagai yang terbesar di dunia dan menunjukkan kepada kinerja yang kuat dari konsumen AS. "Kebanyakan ekonom sebenarnya mengatakan kita tidak akan akan mengalami resesi. Kebanyakan dari mereka mengatakan kita tidak resesi, tetapi seluruh dunia tidak melakukan dengan baik seperti yang kita lakukan," ujar Trump.

Tanda Krisis Belum Terlihat


Sementara Penasihat ekonomi Gedung Putih Larry Kudlow mengatakan kepada Fox News, bahwa perekonomian AS tetap dalam bentuk yang cukup baik. "Tidak ada resesi yang terlihat. Konsumen bekerja, upah mereka meningkat. Mereka menghabiskan banyak uang dan juga menabung," ujar Kudlow.

Pasar saham di seluruh dunia terdampak gejolak pada pasar obligasi, yang juga mengetuk bursa saham AS. Pada hari Rabu pekan lalu, pasar saham AS turun sekitar 3% ketika kurva imbal hasil berbalik, meskipun telah pulih usai kehilangan cukup besar pada akhir minggu.

Bulan lalu, Federal Reserve alias Bank Sentral AS memotong suku bunga untuk pertama kalinya sejak 2008, ketika lebih banyak sentimen negatif yang datang. Laura Foll dari Janus Henderson mengatakan kepada BBC Today program, bahwa apa yang dilakukan Bank Sentral AS untuk "menanggapi peristiwa global " seperti kontraksi ekonomi yang terjadi baik di Inggris dan Jerman selama kuartal kedua.

Ekonomi Jerman mengalami sedikit perubahan 0,1% pada kuartal kedua tahun ini, menurut angka yang dirilis pekan lalu, dan bank sentral mengatakan pada hari Senin bahwa kondisi tersebut bisa menyusut lagi pada kuartal ketiga. "Kinerja ekonomi secara keseluruhan dapat kembali sedikit menurun. Alasan utama untuk ini karena penurunan terus menerus sektor industri," kata Bundesbank dalam laporan bulanan.

Perekonomian AS juga melambat di kuartal terakhir, yang tumbuh dengan kecepatan tahunan 2,1%. Presiden AS telah menulis sekitar 40 tweets baik yang mengkritik Ketua Fed Jerome Powell atau mendorong penurunan suku bunga. "Tentu saja, sangat sulit untuk mengetahui berapa banyak efek dari pernyataan Trump," kata MS Foll.
(akr)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak