alexametrics

Hilirisasi Jagung untuk Pangan Butuh Insentif Pemerintah

loading...
Hilirisasi Jagung untuk Pangan Butuh Insentif Pemerintah
Jagung untuk pangan memiliki potensi nilai tambah yang tinggi dibandingkan jagung untuk pakan yang masih dominan di tanah air. Foto/Ilustrasi
A+ A-
JAKARTA - Potensi jagung untuk pangan membutuhkan insentif pemerintah sehingga industri hilir pengolahan jagung dapat berkembang dan mendukung perekonomian Indonesia lebih optimal.

Pengamat ekonomi pertanian Bustanul Arifin menilai, jagung untuk pangan memiliki potensi nilai tambah yang tinggi dibandingkan jagung untuk pakan yang masih dominan di tanah air. Hilirisasi jagung untuk pangan juga memerlukan kesiapan di hulunya.

"Jagung pangan butuh persiapan dari hulu. Salah satunya industri harus membina petani mulai dari skala kecil. Selain itu, pemerintah juga harus berikan insentif seperti kepastian pasar dan standar harga. Ini lebih baik daripada aturan yang memaksa," ujarnya dalam diskusi 'Peran Jagung dalam Mendukung Agenda Ekonomi Nasional Presiden Joko Widodo: Tantangan dan Peluang' di Jakarta, Kamis (22/8/2019).



Menurut dia, ada kawasan penghasil jagung pangan baru di daerah NTT, Sumatera Utara, dan Jawa Barat. Untuk memperluas lahan jagung untuk pangan, dibutuhkan kerjasama petani dengan pelaku industri seperti yang sudah terjadi untuk jagung untuk pakan.

Salah satu tantangan adalah menghasilkan jagung yang mengandung kadar aflatoksin sangat rendah bahkan nol. Aflatoksin bahkan disebut dapat memicu kekerdilan (stunting) pada anak.

"Dibutuhkan kebijakan pemerintah yang lebih baik untuk hilirisasi jagung pangan. Selama jagung lokal tidak sesuai standar akan langsung digantikan oleh jagung impor," ujarnya.

Sementara itu, PT Tereos FKS Indonesia (TFI) sebagai produsen tepung jagung terbesar menyatakan selama ini pasokan jagung sebagai bahan baku masih didominasi impor. Pasalnya, jagung yang ditanam petani di Indonesia belum memenuhi standar kualitas yang disyaratkan perusahaan.

"Kami membutuhkan pasokan jagung dari dalam negeri yang sesuai standar. Kebutuhannya sangat besar," ujar Sales & Marketing Director Tereos FKS Maya Devi pada kesempatan yang sama.

Keputusan mengambil jagung impor saat ini karena kandungan aflatoksin yang lebih rendah dibandingkan jagung lokal. Kadar aflatoksin memang menjadi standar pati jagung untuk dunia industri.

Tereos FKS merupakan perusahaan hasil joint venture antara Tereos, perusahaan asal Prancis, dengan FKS Group yang masing-masing memiliki kepemilikan saham 50%.

Tereos dikenal sebagai produsen gula dan bioetanol, sementara FKS Group sudah sejak lama berbisnis impor khususnya kedelai.

Saat ini pabrik TFI di Cilegon memiliki kapasitas terpasang 24.000 ton per bulan untuk pati jagung.
(ind)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak