alexametrics

Kementan Terus Angkat Eksistensi Bawang Putih Lokal

loading...
Kementan Terus Angkat Eksistensi Bawang Putih Lokal
Para petani tengah menanam bawang putih lokal. Foto/Dok.Kementan
A+ A-
JAKARTA - Memori masyarakat Indonesia terhadap eksistensi bawang putih lokal dinilai semakin menurun seiring tergantikannya bawang putih lokal dengan bawang putih impor. Tak kurang dari 97% kebutuhan bawang putih nasional yang mencapai 500.000 ton per tahun saat ini dipenuhi dari impor. Padahal, di era tahun 1990-an bawang putih lokal Indonesia mampu merajai pasar dalam negeri. Beragam jenis varietas bawang putih lokal berhasil ditanam petani.

Direktur Perbenihan Hortikultura, Sukarman, menyebut setidaknya terdapat 5 varietas bawang putih lokal yang sudah terdaftar di Kementerian Pertanian, yaitu Lumbu Hijau, Lumbu Kuning, Lumbu Putih, Tawangmangu baru dan Sangga Sembalun. "Sejak impor bawang putih berlangsung terus menerus hingga saat ini, telah menggerus produksi bawang putih lokal. ketersediaan benih bawang putih lokal pun langka," jelas Sukarman di Jakarta, Sabtu (24/8/2019).

Menurutnya, kelima varietas bawang putih tersebut sampai saat ini masih dikembangkan oleh masyarakat meskipun luas pertanamannya tidak sebanyak era 1990-an. “Akhir tahun 2017 lalu kita sempat kesulitan mencari benih bawang putih lokal karena jumlahnya memang terbatas. bawang putih yang semula untuk benih, dijual petani sebagai bawang putih konsumsi akibat harga naik waktu itu," kata Sukarman.



Namun seiring dengan giatnya program APBN dan wajib tanam bagi importir tahun 2018 sampai sekarang, produksi bawang putih lokal sudah meningkat. Produksi tahun 2018 sebanyak 39.000 ton, naik 2 kali lipat dari tahun 2017 yang hanya 19.000 ton. Otomatis ketersediaan benihnya juga meningkat.

"Kelima varietas tersebut sekarang dikembangkan lagi, plus beberapa varietas lokal yang kemungkinan belum terdaftar, yang dikembangkan oleh masyarakat," imbuhnya.

Menurut Sukarman, Lumbu Hijau dan Lumbu Kuning merupakan varietas lokal yang populer ditanam oleh para petani di Batu, Malang, Magelang, Temanggung dan Tegal dan karena dinilai adaptif ditanam di ketinggian diatas 900 mdpl.

Sementara untuk varietas Sangga Sembalun, sesuai dengan namanya menjadi varietas favorit petani bawang putih di Lombok Timur dan wilayah Nusa Tenggara pada umumnya. Hasil uji DNA, mengindikasikan bahwa varietas Sangga Sembalun tidak berbeda dengan varietas Great Black Leaf (GBL) yang dikembangkan di Taiwan maupun varietas Seed 40 yang dikembangkan di Mesir. Varietas ini dicirikan dengan warna daun hijau muda, warna umbi dan siungnya putih keunguan, aroma kurang tajam dan cocok ditanam di dataran tinggi.

Sedangkan untuk varietas Tawangmangu Baru, hingga saat ini masih banyak dikembangkan di kawasan lereng Gunung Lawu di Kabupaten Karanganyar dan sekitarnya. “Varietas Tawangmangu baru ini terbilang super, karena hasilnya bisa mencapai lebih dari 12 ton/hektare. Aromanya juga kuat, dengan ukuran umbi yang besar. Sayangnya umur panennya memang sedikit lebih lama," kata Sukarman.

Meski sudah memiliki nama varietas terdaftar, banyak petani yang belum bisa membedakan antara varietas satu dengan varietas lainnya. Hingga kini pun, banyak petani yang masih menyebut varietas bawang putih dengan istilah-istilah lokal antara lain bawang lengkong, bawang geol dan bawang bagong.

“Para petani di lereng Gunung Sumbing dan Sindoro seperti Magelang, Temanggung, Wonosobo dan sekitarnya masih banyak yang menyebut Bawang Lengkong dan Geol. Para petani di Lombok Timur juga masih menyebut Bawang Bagong. Padahal jenis tersebut identik dengan varietas yang sudah terdaftar,” jelasnya.
(fjo)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak