alexametrics

Meski Ekonomi Melemah, Kekayaan Konglomerat Singapura Terus Bertambah

loading...
Meski Ekonomi Melemah, Kekayaan Konglomerat Singapura Terus Bertambah
10 konglomerat terkaya di Singapura tahun 2019 versi Forbes. Foto/Forbes
A+ A-
SINGAPURA - Ketegangan perdagangan global belum menunjukkan tanda-tanda mereda. Hal ini berdampak pada perekonomian Singapura. Kementerian Perdagangan dan Industri Singapura, yang dilansir The Business Times pada 13 Agustus kemarin, memangkas target pertumbuhan ekonomi Singapura menjadi 1% di tahun 2019, dari sebelumnya 2,5%. Jauh lebih rendah dari pertumbuhan ekonomi tahun 2018 yang mencapai 3,1%.

Sementara itu, pasar saham Singapura, Straits Times Index saat ini telah merosot 3,5% sejak Juli 2018.

Meski ekonomi Singapura melemah tetapi tidak ada alasan untuk menghentikan bertambahnya kekayaan para konglomerat Negeri Singa Merlion.



Laporan terbaru Forbes yang diterbitkan Kamis (29/8/2019), 50 orang konglomerat di Singapura bertambah kekayaannya 12% dibanding tahun lalu. Total kekayaan 50 taipan Singapura bila digabungkan mencapai SGD180 miliar atau USD130 miliar. Jika dikonversi ke rupiah setara dengan Rp1.851 triliun (kurs Rp14.243 per USD).

Mengutip dari Business Insider, Kamis (29/8), konglomerat termuda adalah Eduardo Saverin, 37 tahun, yang menjadi orang terkaya ketiga di Singapura, dengan kekayaan bersih USD10,6 miliar atau setara Rp150,98 triliun. Sepanjang tahun ini, kekayaan bertambah USD1,2 miliar.

Eduardo merupakan pengusaha keturunan Brasil-Amerika Serikat yang ikut mendirikan Facebook bersama Mark Zuckerberg. Data Wikipedia mencatat pada 2012, Eduardo melepaskan status warga negara Amerika Serikat dan pindah menjadi warga negara Singapura. Pada Juni 2015, Eduardo menikah dengan Elaine Andriejanssen, perempuan berkebangsaan Indonesia.

Sementara itu, orang tertua dalam daftar adalah taipan Chang Yun Chung. Pengusaha perkapalan ini menempati peringkat 22 dengan kekayaan bersih USD1,5 miliar ekuivalen Rp21,3 triliun. Pria berusia 101 tahun ini juga merupakan miliarder tertua di dunia.

Berikut 10 konglomerat Singapura yang dikutip SINDOnews dari Singapore’s 50 Richest 2019 versi Forbes:

1. Zhang Yong
Kekayaan bersih: USD13,8 miliar (Rp196,5 triliun)
Pria 50 tahun kelahiran Sichuan, China, merupakan pengusaha restoran Haidilao yang memiliki 466 jaringan restoran di China, Amerika Serikat, Jepang, Korea Selatan dan Singapura. Haidilao merupakan perusahaan restoran yang tercatat di bursa Singapura pada September 2018. Pendapatan dari jaringan restorannya pada tahun ini mencapai USD17 miliar.

Haidilao terkenal dengan hidangan pedas dan layanan manikur gratis bagi pelanggan yang antre menunggu. Menariknya, Zhang Yong tidak tamat sekolah menengah. Sejak remaja, ia telah mendirikan usaha makanan khas Sichuan bersama dengan tiga temannya, salah satunya menjadi istri Zhang.

2. Robert dan Philip Ng
Kekayaan bersih: USD12,1 miliar (Rp172,34 triliun)
Dua bersaudara Robert dan Philip Ng adalah pemilik Far East Organization, pengembang properti terbesar di Singapura. Mereka mewarisi perusahaan yang didirikan oleh sang ayah, Ng Teng Fong, yang migrasi dari China ke Singapura pada 1934, yang juga dikenal sebagai “The King of Orchard Road”, kawasan niaga dan bisnis di Singapura.

Robert, 67 tahun, bersama putranya Daryl memiliki perusahaan Sino Group, pengembang properti yang menguasai Hong Kong. Sementara Philip mengawasi kepentingan perusahaan di Singapura. Pada Maret 2019, keluarga ini menyumbangkan dana USD14 juta untuk pembangunan Beijing Palace Museum.

3. Eduardo Saverin
Kekayaan bersih: USD10,6 miliar (Rp150,98 triliun)
Saverin mendirikan Facebook bersama teman sekelasnya di Universitas Harvard, Mark Zuckerberg pada 2004. Ia mendapatkan sebagian besar kekayaan dari kepemilikan 2% saham di Facebook.

Pada 2016, ia mendirikan perusahaan modal ventural B Capital dan berinvestasi di sejumlah perusahaan teknologi di Asia, Eropa, dan Amerika Serikat. Sepanjang tahun ini, perushaannya mengumpulkan uang USD766 juta.

4. Goh Cheng Liang
Kekayaan bersih: USD9,5 miliar (Rp135,31 triliun)
Goh Cheng Liang, 91 tahun, mendapatkan sebagian besar kekayaannya dari kepemilikan 39% saham di Nippon Paint Holdings, produsen cat terbesar keempat di dunia.

Goh mulai membuat usaha cat di sebuah pabrik kecil di Singapura pada 1955. Kemudian, ia bermitra dengan Nippon Paint Jepang pada 1962. Tahun 1974, Goh merambah ke bisnis real estat.

Putra Goh, Hup Jin, diangkat sebagai Ketua Nippon Paint pada Maret 2018, dan juga menjalankan usaha patungan ayah-anak yaitu Nipsea. Pada April 2019, Nippon Paint mengakuisisi DuluxGroup, produsen cat terbesar di Australia senilai USD2,7 miliar.

5. Kwek Leng Beng
Kekayaan bersih: USD8,8 miliar (Rp125,34 triliun)
Kwek Leng Beng, 78 tahun, adalah Ketua Eksekutif Hong Leong Group Singapura, yang didirikan oleh ayahnya pada tahun 1941. Ia juga merupakan pemilik dari City Developments, pengembang properti terbesar kedua di Singapura.

Di tengah melesunya ekonomi Singapura, Kwek justru melakukan ekspansi, dengan mengakuisisi sejumlah perusahaan properti di Inggris, China, dan Australia. Sepupunya, Qeuk Leng Chan, juga seorang miliarder, menjalankan operasi Hong Leong Group di Malaysia. Pada Januari 2018, putra Kwek, Sherman, mengambil alih sebagai CEO grup City Developments.

6. Wee Cho Yaw
Kekayaan bersih: USD6,6 miliar (Rp94 triliun)
Pria berusia 90 tahun kelahiran Fujian, China, merupakan bankir kenamaan di Singapura. Wee saat ini merupakan Ketua Emeritus dari United Overseas Bank (UOB), pemberi pinjaman terbesar ketiga di Singapura.

UOB didirikan oleh sang ayah, Wee Khiang Cheng pada 1935 dengan nama awal United Chinese Bank. Wee Cho Yaw mengundurkan diri sebagai CEO UOB pada 2013, posisi yang dipegangnya selama enam dekade.

Putra tertua, Wee Ee Chong kini menjadi CEO UOB, sementara putra bungsunya, Wee Ee Lim duduk di kursi dewan direksi. Selain UOB, keluarga Wee juga pemilik perusahaan United Industrial Corporation dan memiliki 45 apartemen di Nassim Hill, kawasan elit Singapura, juga kondominium mewah dengan total harga USD290 juta.

7. Keluarga Khoo
Kekayaan bersih: USD6,5 miliar (Rp92,5 triliun)
Keluarga Khoo mewarisi kekayaan dari sang ayah, Khoo Teck Puat, salah satu bankir ternama, yang mengawali karir di Overseas-Chinese Banking Corporation (OCBC) pada 1933.

Pada 1960, Khoo bersama rekannya mendirikan Malayan Banking (sekarang bernama Maybank). Tiga tahun berselang, ia membeli Goodwood Park Hotel yang bersejarah di Singapura. Pada 1986, Khoo Teck Puat membeli 5% saham bank asal Inggris, Standard Chartered Bank.

Bagian terbesar dari kekayaan keluarga ini berasal dari penjualan saham mereka di Standard Chartered Bank sebesar USD4 miliar pada 2006. Kini kendali perusahaan dipegang oleh anak perempuannya bernama Mavis Khoo-Oei yang memegang Goodwood Group of Hotels, jaringan hotel di Negeri Singa Merlion. Pada 2010, keluarga ini mendirikan Rumah Sakit Khoo Teck Puat di Singapura.

8. Kwee Bersaudara
Kekayaan bersih: USD5,7 miliar (Rp81 triliun)
Empat bersaudara Kwee adalah pemilik Pontiac Land, jaringan hotel mewah dan perkantoran di Singapura. Pontiac Land didirikan oleh ayah mereka, Henry Kwee, pengusaha tekstil dari Bandung, Jawa Barat, kemudian bermigrasi ke Singapura tahun 1958.

Anak tertua dan kedua Henry Kwee, yaitu Kwee Liong Keng dan Kwee Liong Tek bahkan lahir di Bandung pada 1945 dan 1946. Anak ketiga Liong Seen Kwee lahir di Jakarta. Dan anak terakhir adalah Kwee Liong Phing.

Empat bersaudara ini pada 2006 membangun menara setinggi 82 lantai bernama 53W53 di Manhattan, kawasan bisnis Kota New York, dimana harga penthouse ditawarkan lebih dari USD70 juta.

Pada 2017, empat bersaudara Kwee membeli Hotel Cappella Group, hotel mewah legendaris di Singapura dengan harga yang dirahasiakan. Proyek terbaru mereka mendirikan sebuah hotel di Rochester, Minnesota, Amerika Serikat, patungan dengan Mayo Clinic, perusahaan dan riset kesehatan asal Rochester.

9. Kuok Khoon Hong
Kekayaan bersih: USD3 miliar (Rp42,7 triliun)
Kuok Khoon Hong, 70 tahun, mendirikan Wilmar pada 1991 dan menjadikannya salah satu produsen minyak kelapa sawit terbesar di dunia. Investasi Kuok lainnya adalah kepemilikan Yanlord Land bersama miliarder Zhong Sheng Jian, serta Parennial Real Estate Holdings. Kuok juga pemilik Menara Aviva di London, Inggris, bersama miliarder Indonesia, Martua Sitorus, yang juga pendiri Wilmar.

10. Choo Chong Ngen
Kekayaan bersih: USD2,95 miliar (Rp42 triliun)
Choo Chong Ngen, 67 tahun, mengawali bisnisnya dari berjualan tekstil pada usia 15 tahun. Asyik berjualan, Choo meninggalkan bangku sekolah menengah sejak remaja. Dari hasil berjualan pakaian, ia mendapatkan untung USD30 per bulan. Usia 21 tahun, ia sudah mendirikan toko pakaian dan 9 tahun berselang, ia sudah mempunyai 30 toko tekstil.

Tahun 1992, Choo ekspansi ke bidang properti dengan mendirikan Hotel 81 di kawasan Geylang. Bisnis hotel kelas menengah yang disasarnya berkembang pesat, dimana pada 2009, ia membuat lima merek hotel kelas budget. Sekarang Choo memiliki lebih dari 6.500 unit kamar hotel di Singapura.

Pada 2017, ia merambah bisnis hotelnya ke Thailand, Malaysia, dan Australia, dengan tujuh hotel dikelola oleh Travelodge dan Holiday Inn. Pada 2018, ia mengganti nama grupnya menjadi Worldwide Hotels.
(ven)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak