alexametrics

Babak Baru Perang Dagang AS-China Tanpa Kesepakatan

loading...
Babak Baru Perang Dagang AS-China Tanpa Kesepakatan
Eskalasi terbaru perang dagang AS dan China telah membuat proyeksi ekonomi global ke depan terlihat suram, lantaran diyakini sulit mencapai kesepakatan. Foto/Ilustrasi
A+ A-
WASHINGTON - Eskalasi terbaru perang dagang Amerika Serikat (AS) dan China telah membuat proyeksi ekonomi global ke depan terlihat suram. Dimana bisnis semakin sulit untuk menavigasi ketidakpastian konflik perdagangan antara dua ekonomi terbesar dunia yang berkepanjangan.

Bahkan para analis meragukan baik Beijing maupun Washington bakal mampu mencapai kesepakatan, di tengah banyak sentimen yang sepertinya membuat perang dagang berlarut-larut. "Sulit pada tahap ini untuk melihat bagaimana mungkin ada kesepakatan atau setidaknya perjanjian yang baik," kata Julian Evans-Pritchard, ekonom senior China di Capital Economics seperti dilansir BBC, Sabtu (31/8/2019).

"Sejak pembicaraan terhenti pada Mei, posisi kedua belah pihak telah mengeras dan ada komplikasi lain, yaitu larangan Huawei dan protes Hong Kong, yang membuatnya semakin sulit untuk menjembatani kesenjangan," paparnya.



Seperti diketahui pemerintah AS telah memasukkan Huawei ke dalam daftar hitam perdagangan pada Mei, sementara Presiden AS Donald Trump telah mengikat protes di Hong Kong dengan kemungkinan kesepakatan perdagangan dengan China.

Memasuki putaran baru perang dagang AS versus China, dimana Negeri Paman Sam berencana menerapkan tarif terbaru pada sejumlah produk asal China untuk meningkatkan kembali tensi perang dagang. Pada hari Minggu, besok diprediksi tarif baru AS bakal menghantam produk-produk China senilai miliaran dolar dengan bea 15%.

Beijing sendiri mengatakan, pihaknya memiliki "cukup" cara untuk membalas, di sisi lain juga menyerukan agar kedua pihak melanjutkan negosiasi perdagangan. Langkah ini dilakukan di tengah meningkatnya ketegangan antara Washington dan Beijing. Sampai akhir tahun ini, Washington bersiap mengenakan tarif pada hampir semua barang impor asal China.

Awalnya perselisihan dua negara adidaya ekonomi ini muncul akibat praktik perdagangan yang diduga tidak adil. Akan tetapi semakin dalam, para pengamat memandang konflik AS-China sebagai perebutan kekuasaan geopolitik antara dua ekonomi terbesar di dunia. Sejauh ini Washington telah mengenakan tarif sekitar USD250 miliar terhadap produk-produk China, sementara Beijing juga membalas dengan tarif senilai USD110 miliar yang ditujukan ke produk-produk AS.

Ada Apa di 1 September?


AS sendiri sebelumnya menyatakan siap memberlakukan tarif 15% untuk produk asal China dengan nilai mencapai USD300 miliar hingga akhir 2019 dalam dua putaran. Dimana putaran pertama akan diperkenalkan pada 1 September dan para analis memperkirakan tarif tersebut akan menargetkan nilai impor sekitar USD150 miliar.

Kantor Perwakilan Dagang Amerika Serikat belum memberikan kepastian seputar nilai produk yang bakal dihantam tarif baru. Produk yang akan ditargetkan pada bulan September berkisar dari daging dan keju hingga pena sampai alat musik. Gelombang kedua pengenaan bea impor tinggi dimulai pada 15 Desember, mendatang dengan target termasuk pakaian dan alas kaki.

Angka 15% menggantikan 10% yang semula direncanakan dan diumumkan minggu lalu saat ketegangan antara kedua belah pihak meningkat. China awalnya mengatakan akan membalas dengan langkah serupa yang menargetkan produk AS senilai USD75 miliar. Akan tetapi kemudian pihak Beijing melontarkan, pernyataan yang melunak dengan membuka pintu untuk negosiasi bersama AS.

Pada hari Kamis, juru bicara Departemen Perdagangan Gao Feng mengatakan China memiliki banyak cara dan sarana untuk membalas tarif AS, meski menekankan perlunya upaya dalam mengurangi ketegangan. "Paling penting saat ini adalah menciptakan kondisi yang diperlukan bagi kedua belah pihak untuk melanjutkan negosiasi," katanya.

Bagaimana Reaksi Industri

Trump berulang kali berargumen bahwa China akan menerima dampak paling besar dari perang tarif, akan tetapi banyak perusahaan AS telah membantah klaim tersebut. Lebih dari 200 perusahaan alas kaki -termasuk Nike dan Converse - mengatakan bea baru akan menambah tarif yang sudah ada hingga 67% pada beberapa jenis sepatu, hingga akibatnya menaikkan harga bagi konsumen sebesar USD4 miliar setiap tahun.

Para pelaku usaha mengatakan, tarif masuk untuk alas kaki "juga akan berarti kenaikan pajak besar-besaran mencapai puluhan juta bagi orang Amerika saat membeli sepatu selama musim liburan". Kamar Dagang Amerika di China juga menyuarakan keprihatinan setelah AS mengatakan akan melanjutkan kebijakan tarif tinggi.

"Anggota kami telah lama menerangkan, bahwa tarif ini akan membebani konsumen karena mereka yang harus membayarnya sehingga membahayakan bisnis. Karenanya kami mendesak bahwa kedua belah pihak bekerja menuju perjanjian yang berkelanjutan sesegera mungkin. Ditambah menyelesaikan masalah mendasar, struktural yang telah lama dihadapi bisnis asing di China," jelas pihak Kamar Dagang Amerika di China.

What Next

Selain memberlakukan tarif baru, pemerintahan Trump juga berencana untuk menaikkan tarif pada bea yang ada dari 25% menjadi 30% pada 1 Oktober. Evans-Pritchard dari Capital Economics mengatakan, tingkatan tersebut masih dapat berlanjut. "Tarifnya bisa sampai 45%," katanya.

Untuk ekonomi AS dan China, analis mengungkapkan tekanan yang diciptakan oleh tarif juga meningkat. "Perang perdagangan bersama dengan pembalasan China dapat mengurangi potensi pertumbuhan PDB AS dalam jangka pendek hampir 1%. Dampaknya pada China juga akan lebih besar, sebanyak 5%," kata Gary Hufbauer dari Institut Peterson untuk Ekonomi Internasional yang berpusat di Washington.
(akr)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak